Archive for August, 2009

Konser Mahadewi Pukau Kota Palu

Kapanlagi.com – Mahadewi guncang Sulawesi Tengah dengan kedahsyatan lagunya, Sabtu (15/08) di lapangan Vatulemo, balai kota Palu. Konser yang dihadiri lebih dari 5.000 penonton itu tampak bersemangat tatkala Purie dan Tata muncul di atas panggung dan menyapa para penggemarnya.

Hiburan musik yang menghadirkan artis Mahadewi dan The Law ini dikemas dalam satu pagelaran bertajuk “Pesta Rakyat Simpedes 2009″ yang digelar BRI Cabang Palu. Konser yang dilansir sekitar pukul 19.00 itu memukau para penonton yang seakan terhipnotis saat kedua penyanyi mengawali tembangnya berjudul Sumpah I Love You.

Lagu-lagu lain yang juga sudah sering dibawakan pada setiap penampilan mereka, antara lain Mahadewi Cinta, Elang, Begini Salah Begitu Benar, juga dibawakan dengan begitu apik dan kompak.

Suasananya semakin riuh tatkala artis The Law ikut serta berduet dengan Mahadewi di atas panggung lewat beberapa tembangnya seperti Sumpah I Love You dan Dokter Cinta. Penonton pun diajak berkaraoke oleh personil J-Rocks tersebut hingga lagu penutupnya Lepaskan Diriku.

Dalam konser itu, beberapa lagu yang sering dibawakan Mulan Jameela, seperti Wonder Woman juga dibawakan begitu maksimal.

Kedua penyanyi cantik ini dinilai banyak penonton setempat memiliki karakter vocal yang kuat dengan teknis dan penjiwaan yang matang, karena dengan range vocalnya yang lebar memudahkan mereka mengambil nada-nada rendah hingga nada tinggi.

Selain Mahadewi, pada konser kali ini juga diisi dengan penampilan sexy dancer dan sejumlah band lokal Kota Palu seperti Prima Band dan G-Star Band.

Malam konser itu bertambah meriah dengan diadakannya pesta kembang api. Menurut Kepala BRI Cabang Palu, Yoel Charles Sitompul, konser Mahadewi yang mereka gelar tersebut merupakan salah satu bentuk apresiasi hiburan musik kepada para nasabah BRI yang berada di wilayahnya.

“Kami berharap masyarakat Kota Palu, khususnya para nasabah BRI, dapat terhibur dengan suguhan konser musik serta kegiatan hiburan lain yang digelar selama dua hari ini,” kata dia ketika memberikan sambutan di hadapan ribuan penonton.

Pada akhir konser, Mahadewi menutup penampilannya dengan lagu andalannya, Sakit Minta Ampun diiringi dengan letupan kembang api yang menghiasi malam Sulawesi Tengah itu. (kpl/bee)

sumber kapanlagi.com

Emas Poboya, Deposit Yang Terancam

Oleh : Wilianita Selviana*

Perdebatan tentang operasi pertambangan di Sulawesi Tengah masih belum usai, antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan selalu bertentangan. Kandungan mineral yang kaya di daerah ini memang sangat menggiurkan nilai ekonomisnya. Jika diklasifikasikan nilainya dalam bentuk asset, maka kandungan mineral ini merupakan deposit yang sangat berharga di masa mendatang ketika sektor lain seperti budidaya sudah tidak mampu menunjang kesejahteraan masyarakat. Namun yang terjadi saat ini sepertinya tidak demikian, sektor budidaya yang lebih ramah lingkungan justru terabaikan karena keuntungan ekonomi dari eksploitasi kandungan mineral yang ada dianggap lebih menjanjikan.

Hal ini terjadi di Poboya, wilayah yang  sejak tahun 1997 ditetapkan sebagai areal konsesi pertambangan emas oleh PT. Citra Palu Mineral (CPM). Setelah berganti pemilik saham beberapa kali, tahun 2008 kemarin kepemilikan saham PT.CPM telah dikuasai oleh PT Bumi Resources (BUMI) Tbk dan akan segera merealisasikan rencana operasinya. Hal ini dikuatkan dengan Surat persetujuan terakhir yang dikeluarkan DESDM nomor 46.K/30.00/DBJ/2008 tanggal 13 Maret 2008. Surat ini merupakan izin untuk kegiatan eksplorasi PT CPM. Menurut rencananya tahapan eksplorasi itu akan dilakukan PT CPM beberapa kali, sebelum dilanjutkan ke tahapan eksploitasi.

Di tahun yang sama juga, BUMI mengekspos informasi kepada Pemegang Sahamnya tentang Prospek Poboya, blok 1, merupakan tahap eksplorasi yang paling maju dengan menyelesaikan program pemboran tahap pertama. Hasil dari program ini mengidentifikasikan adanya kandungan emas sebesar dua juta ons. Informasi ini sangat menggoda dan sempat mendongkrak saham BUMI yang anjlok ketika krisis ekonomi global terjadi.

Ternyata potensi emas Poboya ini tidak hanya menggiurkan para pemegang saham BUMI tapi juga masyarakat Poboya dan di luar Poboya yang mengetahuinya. Di tengah hiruk pikuk rencana operasi BUMI, sekitar bulan November 2008, Operasi pertambangan dengan menggunakan teknologi sederhana mulai dilakukan masyarakat Poboya dibantu oleh masyarakat dari luar yang lebih berpengalaman dan sebagian merupakan penambang eks Bombana, Sulawesi Tenggara yang dipulangkan beberapa bulan sebelumnya oleh Pemerintah Daerah setempat. Iming-iming penghasilan jutaan rupiah perbulan dari eksploitasi emas, meyakinkan masyarakat Poboya untuk beralih mata pencaharian utama dari bertani dan bertenak menjadi penambang. Bahkan beberapa orang pegawai negeri sipil (PNS) juga ikut menanamkan sahamnya pada pembangunan mesin-mesin tromol yang digunakan untuk menghacurkan material hasil galian dan memisahkan butiran emas.

Sebelumnya penambangan emas secara tradisional dengan mendulang emas di sungai Poboya telah dilakukan masyarakat sejak tahun 2003. Hanya saja, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, belum pernah membina masyarakat penambang. Pemkot terkesan melakukan pembiaran atas proses penambangan emas tersebut hingga akhirnya juga dilarang, padahal beberapa kali masyarakat penambang meminta pembinaan namun hingga saat ini tidak juga terealisasi.


Menghentikan penambangan, menghilangkan mata pencaharian

Upaya pemerintah kota Palu membendung operasi pertambangan masyarakat dengan tekonologi sederhana ini, sepertinya tidak diindahkan oleh masyarakat. Bulan Maret yang lalu, langkah penertiban yang dilakukan oleh Pemkot terhadap operasi pertambangan tersebut tidak membuahkan hasil. Justru semakin banyak penambang dari luar Poboya yang datang dan mesin-mesin tromol yang beroperasi juga bertambah jumlahnya. Material yang digali sangat banyak dan alat penghancur serta pemisah emas tidak lagi mampu karena jumlah yang terbatas, sehingga banyak material yang harus dibawa ke Sulawesi Utara untuk diolah disana.

Awal Juni ini, kembali upaya penertiban dilakukan oleh Pemkot namun resistensi masyarakat diluar dugaan. Sebagian besar penambang berharap Pemkot tidak menutup total operasi pertambangan yang mereka lakukan jika tidak ada alternatif ekonomi yang lebih baik kepada mereka. Selama Pemkot belum menawarkan alternatif yang lebih baik kepada masyarakat penambang, maka sangat mustahil untuk menghentikan operasi pertambangan yang ada meskipun dengan alasan lokasi penambangan adalah areal konsesi PT.CPM atau alasan pencemaran lingkungan karena penggunaan merkuri semakin meningkat.

Dari amatan penulis di lapangan, sebelum operasi penertiban dilakukan telah beroperasi 8 mesin tromol di wilayah Poboya dan saat seminggu sebelum tulisan ini dipublikasikan, jumlah mesin tromol yang ada sudah sekitar 15 unit. Hal yang membingungkan penulis adalah jumlah mesin ini bertambah disaat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mendirikan pos pengawasan di wilayah ini.


Merusak lingkungan, menurunkan pertumbuhan ekonomi

Kekhawatiran berbagai pihak terhadap ancaman kerusakan lingkungan akibat operasi pertambangan tidak bisa disepelekan. Hal ini harus menjadi perhatian serius, karena berpengaruh besar pada kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi sering dijadikan alasan untuk menguras kandungan mineral dengan operasi pertambangan, memanfaatkan deposit untuk konsumsi hari ini seolah dianggap adalah pilihan bijak.

Pertumbuhan ekonomi kemudian digenjot dengan sangat cepat, eksploitasi di sektor pertambangan menjadi salah satu pilihan utamanya. Pelestarian sumber daya alam dan pengendalian pencemaran tidak lagi diindahkan. Maka kegiatan ekonomi pun sebenarnya akan surut dengan cepat, terutama ketika penduduk sedang berkembang. Lingkungan alam yang turun melebihi daya dukungnya akibat kegiatan yang sangat eksploitatif akan menyebabkan ekonomi kehilangan kemampuannya untuk tumbuh.

Penelantaran lahan pertanian hampir 3.000 ha yang dikelola oleh masyarakat Poboya selama ini karena beralih menjadi penambang sangat disayangkan. Alasan ketersediaan air yang sangat minim untuk pertanian mereka dan selalu dikeluhkan harusnya bisa dicarikan solusi yang tepat, bukan justru beralih menjadi penambang.

Keasyikan pada kepentingan ekonomi semata-mata dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang tidak dapat diperbaiki. Sama halnya dengan kegiatan membabat hutan yang dilakukan terus menerus tanpa usaha yang cukup untuk reboisasi, maka kita akan dengan cepat mempersempit pertumbuhan ekonomi. Hal ini sudah mulai terbukti dengan dampak perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini.


Deposit berharga harusnya tidak terancam

Pada masa Gubernur Sulawesi Tengah Prof (EM) H Aminudin Ponulele, rencana operasi PT. CPM di Poboya sempat terhenti dengan alasan berada di wilayah lindung. Pilihan bijak ini sangat beralasan karena antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan memang harus berjalan seiring. Namun setelah pergantian Gubernur pada 2006 lalu, Gubernur baru HB Paliudju, kembali memberikan peluang kepada Investor yang akan menambang emas di Poboya, sehingga wajar saja aktivitas penambangan di Poboya oleh masyarakat kembali berlanjut. Pendapat masyarakat sangat sederhana, jika perusahaan besar diberikan izin oleh pemerintah, maka masyarakat juga dengan sendirinya boleh melakukan penambangan.

Hanya saja yang harus dipertimbangkan adalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan hanya mungkin apabila ada perlindungan lingkungan yang memadai. Dalam pengambilan kebijakan di segala tingkat masyarakat, pertimbangan-pertimbangan lingkungan perlu menjadi komponen yang integral dari pengambilan keputusan.

Keberadaan deposit berharga yang dimiliki harusnya dijaga sebagai persediaan di masa yang paling sulit ketika tidak memungkinkan lagi mengembangkan sektor budidaya yang selama ini dikelola oleh sebagian besar masyarakat seperti bidang pertanian dan peternakan. Bukan justru memilih menguras deposit disaat kondisinya masih memungkinkan mengupayakan sektor lain yang tidak beresiko besar terhadap lingkungan.

Pemerintah daerah juga sebaiknya mendukung hal ini dengan penyediaan sarana-sarana penunjang kegiatan pertanian dan peternakan yang dilakukan masyarakat sehingga pilihan-pilihan paraktis tidak menjadi pilihan utama seperti menjadi buruh tambang. Masyarakat juga harus didorong agar berdaulat di tanah mereka. Demikian halnya dengan program-program pembangunan yang dilaksanakan, seperti rencana pengembangan kawasan agro wisata beberapa waktu lalu harus melibatkan masyarakat setempat sebagai mitra bukan mengabaikan keberadaan meraka.***

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sulawesi Tengah

sumber:jatam.org

Mengadu Untung di Tambang Emas Poboya

Poboya

Senin, 3 Agustus 2009 | 02:50 WIB

Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 wita, Jumat (24/7). Matahari terik. Cuaca panas ini tak membuat penambang emas di Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah, beranjak dari tempatnya memecah batu. Sebagian mengaso sebentar, berdiri lagi, lalu mengambil martil dan linggis untuk kembali sibuk menggali tanah dan memecah batu.

Poboya hampir tak pernah tidur. Sejak pagi hingga malam, suara pukulan martil dan linggis beradu dengan batu-batu keras hampir tak pernah berhenti. Truk, mobil bak terbuka, dan kendaraan roda dua hilir mudik mengangkut karung berisi batu menuju permukiman terdekat di Poboya berjarak sekitar 10 kilometer. Jalan tanah sempit dan berbatu menyeberangi sungai bukan hambatan.

Di rumah-rumah penduduk di Poboya, aktivitas warga tak kalah sibuknya. Membongkar karung, memukul batu hingga setengah hancur, lalu menggiling dalam tromol menjadi pemandangan lazim di rumah warga. Di lokasi penambangan tidak memungkinkan mengoperasikan tromol.

Di rumah penduduk, kepingan batu dicuci dengan air raksa (merkuri) untuk memisahkan butiran emas dari tanah.

Namun, tak semua batu mengandung emas. Kerap terjadi, tak sebutir emas ditemukan meski berkarung-karung batu yang dihancurkan. Namun, jika nasib lagi baik, batu-batu yang digali dan dihancurkan berisi butiran emas. Kadar emas di Poboya umumnya berkisar 40-80 persen. Harganya Rp 60.000-Rp 130.000 per gram.

Hasil menggiurkan itulah yang membuat penambang tak pernah patah semangat. Tambang emas Poboya seperti tanah harapan. Tak sekadar warga lokal, penambangan ini dipenuhi warga pendatang dari luar Kota Palu, bahkan dari luar Sulawesi Tengah, seperti Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan.

Riman (45), warga Gorontalo dari Marisa, misalnya, meninggalkan istri dan anak tak jadi soal asal pulang dapat emas. Harapan sama juga yang membuat Baharuddin (24), penambang lain asal Sulawesi Selatan.

Di Poboya mereka mendirikan tenda. Biasanya satu tenda dihuni satu kelompok berisi 4-6 orang. Mereka patungan modal atau seorang menjadi pemodal.

Masalah lingkungan

Saat ini aktivitas penambangan di Poboya kian tak terkendali. Terlebih lagi dengan kedatangan penambang dari luar Palu. Hingga tahun 2008 hanya ada puluhan tenda yang berdiri di sana. Kini jumlahnya diperkirakan sekitar 300 tenda. Lubang galian pun makin banyak.

Tindak kriminal juga sudah terjadi. Mei lalu aparat Kepolisian Resor Kota Palu menggagalkan penyelundupan 360 karung berisi batu dari areal penambangan Poboya yang rencananya akan dibawa ke Manado, Sulawesi Utara. Ini bukan kali pertama karena sebelumnya aparat juga menggagalkan aksi serupa dengan tujuan sama.

Kepala Kepolisian Sektor Palu Timur Ajun Komisaris Darno mengaku kondisi ini rawan benturan.

Direktur Eksekutif Walhi Sulteng Wilianita Selviana menambahkan, aktivitas sekarang bukan lagi tambang tradisional, tetapi sudah mengarah ke industri tambang skala kecil.

Poboya adalah salah satu hutan di Kota Palu dengan luas 200 hektar. Kawasan ini merupakan daerah penyangga air untuk Palu dan sekitarnya. Karena alasan ini, Pemerintah Kota Palu mengeluarkan rekomendasi untuk menutup tambang ini. Pemerintah Provinsi Sulteng menanggapinya dengan berbagai langkah, termasuk mengundang tokoh masyarakat agar aktivitas penambangan dihentikan.

”Kami membatasi dan melarang, tetapi mereka terus berdatangan,” kata Mulhanan Tomboltutu, Wakil Wali Kota Palu.

Namun, kian banyak penambang yang berdatangan. Warga setempat pun seperti tak hirau. Sebagian malah mendapatkan keuntungan dari sewa tanah yang kebetulan berada di areal penambangan. Sebagian mendapatkan penghasilan dari uang jasa keluar masuk areal pertambangan sebesar Rp 10.000 per orang, sewa tromol, atau buruh angkut. (Reny Sri Ayu Taslim)

sumber:kompas.com

Bahaya Air Raksa

Raksa sangat beracun, menyebabkan kerusakan pada sistem saraf di bahkan relatif rendah tingkat eksposur. Hal ini terutama berbahaya bagi perkembangan anak-anak yg belum lahir. Ia mengumpulkan dalam tubuh manusia dan hewan dan dapat terkonsentrasi melalui rantai makanan, terutama dalam beberapa jenis ikan. Komisi dari Direktorat Jenderal Kesehatan dan Perlindungan Konsumen merekomendasikan bahwa perempuan yang sedang menyusui atau yang hamil atau mungkin mereka harus membatasi konsumsi ikan buas yang besar, seperti ikan todak, shark, Marlin, seligi dan tuna.

Hal ini dikenal raksa yang tidak memiliki rasa hormat terhadap nasional atau daerah perbatasan, jarak perjalanan panjang melalui udara, dan memiliki kedua kejangkitan Eropa dan global persediaan makanan di tingkat hal risiko yang signifikan untuk kesehatan manusia, menurut World Health Organisation, makanan otoritas keselamatan, kesehatan dan profesional kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Bahkan arktik, yang tidak memiliki sumber-sumber pencemaran raksa, mengalami tingkat kontaminasi berbahaya dalam mamalia laut dan spesies lainnya yang merupakan bagian dari makanan yang bersih.
The chemistry dari raksa dan formulir di lingkungan (1)

Mercury terjadi secara alami di lingkungan dan terdapat dalam berbagai bentuk. Dalam bentuk murni itu dikenal sebagai “kekuatan” atau “logam” raksa (Hg (0) atau Hg0). Mercury jarang ditemukan di alam sebagai murni, cair logam, tetapi dalam compounds anorganik dan garam. Mercury dapat terikat lainnya compounds sebagai monovalent raksa atau divalent (juga dinyatakan sebagai Hg (I) dan Hg (II) atau Hg2 +, masing-masing). Banyak anorganik dan organik dari compounds raksa dapat dibentuk dari Hg (II).
Beberapa bentuk raksa terjadi secara alami di lingkungan. Alam yang paling sering ditemukan bentuk raksa di lingkungan adalah logam raksa, mercuric sulfida, mercuric khlorida, dan methylmercury. Beberapa mikro-organisme dan alam proses dapat mengubah raksa di lingkungan dari satu bentuk lain.

Raksa adalah beranjau sebagai mercuric sulfida (bijih cinnabar). Melalui sejarah, deposito dari cinnabar telah menjadi sumber ores untuk pertambangan komersial dari logam raksa. Logam yang paling sederhana adalah bentuk halus dari bijih sulfida mercuric dengan memanaskan bijih ke suhu yang di atas 540 º C. Ini vaporises raksa di dalam bijih, dan vapours kemudian diambil dan didinginkan untuk membentuk logam cair raksa.
Elemental raksa adalah mengkilap, perak-putih yang merupakan logam cair pada suhu kamar dan biasanya digunakan dalam beberapa termometer dan listrik aktif. Jika tidak ditutupi, pada suhu kamar beberapa logam raksa akan menguap dan formulir raksa vapours. Mercury vapours adalah warna dan tanpa bau. Semakin tinggi suhu, semakin vapours akan dibebaskan dari logam raksa cair. Beberapa orang yang telah meniupkan raksa vapours lapor logam rasa di mulut mereka. Elemental raksa di atmosfer dapat mengalami transformasi dalam bentuk anorganik raksa, memberikan jalan bagi yang signifikan dari endapan emitted kekuatan raksa.

Inorganic compounds mercuric termasuk mercuric sulfida (HgS), mercuric oksida (HgO) dan mercuric khlorida (HgCl2). Mercury compounds ini juga disebut raksa garam. Paling raksa anorganik compounds are white powders atau kristal, kecuali mercuric sulfida, yang merah dan hitam ternyata setelah terpapar cahaya. Beberapa raksa garam (seperti HgCl2) yang cukup volatile ada sebagai atmospheric gas. Namun, air dan kelarutan kimia anorganik reactivity ini (atau divalent) raksa gas yang jauh lebih cepat dari endapan suasana daripada untuk kekuatan raksa. Ini hasil yang signifikan dalam singkat atmospheric lifetimes untuk divalent raksa gas dari kekuatan untuk raksa gas.

Ketika menggabungkan dengan raksa karbon, yang dibentuk compounds disebut “organik” raksa atau compounds organomercurials. Ada kemungkinan besar jumlah raksa organik compounds (seperti methylmercury, dimethylmercury, phenylmercury, dan ethylmercury), namun jauh yang paling umum raksa organik kompleks di lingkungan adalah methylmercury. Anorganik seperti mercuric compounds, baik methylmercury dan phenylmercury ada sebagai “garam” (misalnya, methylmercuric khlorida atau phenylmercuric acetate). Ketika murni, kebanyakan bentuk methylmercury dan phenylmercury adalah kristal putih solids. Dimethylmercury Namun, merupakan warna cair.

Yang paling umum raksa organik kompleks yang mikro-organisme dan alam menghasilkan proses dari bentuk-bentuk lain adalah methylmercury. Methylmercury merupakan hal yang khusus karena dapat membangun (bioaccumulate dan biomagnify) di edible banyak air tawar dan ikan laut dan mamalia laut ke tingkat yang banyak ribuan kali lebih besar dari tingkat air di sekitarnya.

Sebagai sebuah elemen, raksa tidak dapat dirobohkan atau direndahkan menjadi zat berbahaya. Mercury dapat mengubah negara dan berbeda antara spesies dalam siklus, namun formulir sederhana adalah kekuatan raksa, yang sendiri adalah manusia dan merusak lingkungan. Setelah raksa telah liberated baik dari ores atau dari bahan bakar fosil dan mineral deposit tersembunyi di bumi dan crust dilepaskan ke dalam lingkungan, dapat sangat mobile, bersepeda antara permukaan bumi dan atmosfir. Bumi permukaan tanah, air dan badan-badan bawah sedimen yang berpikir untuk menjadi dasar untuk biospheric sink raksa.
Sumber mercury, menggunakan dan emisi (2)

Raksa dilepaskan oleh sumber-sumber alam seperti gunung berapi, oleh penguapan dari tanah dan air permukaan, serta melalui penurunan mineral dan kebakaran hutan. Namun, perlu dicatat bahwa sebuah bagian dari hari ini emisi dari tanah dan air permukaan terdiri dari endapan dari sebelumnya raksa dari kedua anthropogenic dan sumber-sumber alam.
Raksa adalah juga sebagai elemen jejak dalam batubara. Besar yang menggunakan batu bara-fired power plants dalam menghasilkan listrik, untuk membuat raksa emisi udara dari sumber ini antara terbesar di dunia.
Selain itu, raksa tersedia di pasar dunia dari beberapa sumber;
* Mine produksi utama raksa (diekstraksi dari bijih) masih terjadi terutama di Aljazair, Kyrgyzstan, dan China, dan sampai baru (2003) di Spanyol. Beberapa di antara tambang adalah milik negara. Ada juga laporan kecil dari raksa artisanal pertambangan di Cina, Rusia (Siberia), Outer Mongolia, Peru dan Meksiko terutama melayani permintaan lokal.
* Mercury terjadi sebagai oleh-produk pertambangan memperbaiki atau dari logam lainnya (seperti seng, emas, perak) atau mineral, serta menyempurnakan dari gas alam.
* Reprocessing atau sekunder dari sejarah pertambangan tambang Tailing berisi raksa.
* Recycled raksa dikeluarkan kembali dari produk-produk dan limbah dari proses industri.
* Swasta saham (seperti mercury yang digunakan dalam chlor-alkali dan industri lainnya).

Contoh yang menggunakan raksa, dalam urutan tertentu, termasuk:
Sebagai metal (antara lain):
* Untuk ekstraksi emas dan perak (untuk abad)
* Sebagai katoda dalam sel-raksa untuk proses produksi chlor-alkali
* Dalam listrik dan elektronik aktif
* Dalam lampu neon
* Dalam keluarnya lampu (misalnya streetlights dan beberapa mobil headlights)
* Dalam termometer
* Dalam thermostats
* Dalam manometers untuk mengukur dan mengendalikan tekanan (sphygmomanometers)
* Barometers
* Pada gigi amalgam keperluan

Sebagai senyawa kimia (antara lain):
* Pada baterai
* Vaksin (sebagai pengawet dalam bentuk ethylmercury dalam thimerosal)
* Biocides / fungicides dalam industri kertas, melukis dan biji gandum
* Dalam farmasi antiseptics
* Laboratorium analisis reactants
* Katalis (misalnya untuk produk vinyl chloride monomer)
* Pigmen dan dyes (mungkin sejarah)
* Deterjen (mungkin sejarah)
* Soaps dan krim (sebagai bactericide dan / atau whitening agent)
* Peledak (mungkin sejarah)

Banyak menggunakan ini telah berkurang secara signifikan di banyak negara-negara industri, terutama selama dua dekade terakhir. Namun, banyak menggunakan dihentikan di negara-negara OECD masih hidup di bagian lain di dunia. Menggunakan beberapa ini telah dilarang atau sangat dibatasi di sejumlah negara karena Adverse dampak manusia dan lingkungan.
Di Uni Eropa raksa tidak digunakan dalam deterjen, soaps, paints, biocides, emas (kecuali di Guyana Perancis) dan mercury-containing soaps yang dilarang untuk ekspor oleh Lampiran V Regulasi (EC) No 304/2003 tentang Parlemen Eropa dan Dewan 28 Januari 2003 mengenai ekspor dan impor bahan kimia yang berbahaya (oj L 63, 6.3.03, hal 1-26).

Mercury memasuki lingkungan (udara, air dan tanah) terutama melalui:
* Coal pembakaran.
* Kota dan insinerator limbah medis.
* Steel produksi.
* Semen produksi.
* Chlor-alkali produksi
* Crematoria
* Artisanal pertambangan emas
* Dental amalgams
* Mercury-berisi sampah
* Peleburan dan memperbaiki dari metal ores
Mercury eksposur dan efek

Mercury compounds dan sangat beracun ke manusia, ekosistem dan satwa liar. Dosis tinggi dapat menimbulkan kematian kepada manusia, tetapi juga relatif rendah dosis dapat memiliki dampak serius Adverse neurodevelopmental, dan baru saja dihubungkan dengan kemungkinan berbahaya efek pada cardiovascular, reproduksi dan sistem kekebalan. (3)

Kebisaan dari raksa yang tergantung pada kimia, dan dengan demikian tanda-tanda dan gejala yang agak berbeda dalam eksposur ke kekuatan raksa, raksa anorganik compounds, atau raksa organik compounds (terutama alkylmercury compounds seperti methylmercury dan ethylmercury garam, dan dimethylmercury). Sumber eksposur juga berbeda ciri untuk berbagai bentuk raksa. Untuk alkylmercury compounds, di antara yang jauh methylmercury adalah yang paling penting, yang utama adalah sumber eksposur gizi, terutama ikan dan hasil laut lainnya. Hal ini karena methylmercury bioaccumulates, yang berarti lebih besar ganas ikan (seperti tuna, hiu, marlins) yang lebih tinggi tingkat methylmercury dalam tubuh mereka dari non-ikan buas. (4) Untuk kekuatan uap air raksa, sumber yang paling penting untuk masyarakat umum gigi adalah amalgam, tetapi di tempat kerja eksposur Mei dalam beberapa situasi ini dengan lebih banyak kali (misalnya untuk perawat di rumah sakit, untuk gigi perawat, dokter gigi dan pekerja di laboratorium). Untuk raksa anorganik compounds, diet adalah sumber yang paling penting bagi kebanyakan orang. Namun, untuk beberapa segmen dari populasi, penggunaan krim kulit-keringanan dan soaps yang berisi air raksa, dan penggunaan air raksa untuk budaya / tujuan taat kpd tata cara keagamaan atau obat tradisional, juga dapat mengakibatkan banyak eksposur ke anorganik atau kekuatan raksa. (5)

Raksa organik, dalam bentuk methylmercury, adalah yang paling beracun bentuk manusia biasanya terkena. Methylmercury adalah baik didokumentasikan neurotoxicant, khususnya yang dapat menimbulkan efek pada Adverse mengembangkan otak. Selain itu, kompleks ini siap melewati kedua placental hambatan dan penghalang darah-otak, oleh karena itu, selama kehamilan eksposur yang tinggi dari perhatian. Selain itu, beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan kecil bahkan methylmercury Adverse eksposur dapat menimbulkan efek pada sistem cardiovascular, sehingga menyebabkan meningkatnya angka kematian. Mengingat pentingnya cardiovascular penyakit di seluruh dunia, temuan ini, walaupun masih harus dikonfirmasi, menyatakan bahwa methylmercury eksposur memerlukan perhatian dan menutup tambahan tindak lanjut. Selain itu, methylmercury compounds dianggap mungkin yg menyebabkan kanker kepada manusia (kelompok 2B) sesuai dengan International Agency for Research on Cancer (IARC, 1993), berdasarkan evaluasi secara keseluruhan. (6)

Makan ikan (7) merupakan sumber utama untuk manusia yang terkena methylmercury. Populasi yang paling berisiko adalah fetuses, bayi dan anak-anak muda (8). Akibatnya, konsumsi ikan oleh ibu hamil, anak-anak, perempuan dan anak usia adalah untuk menimbulkan kekhawatiran karena kemungkinan raksa eksposur. Para ahli memperkirakan bahwa hampir setengah (44%) dari anak-anak muda di Perancis (9) dapat memiliki tingkat kesehatan yang melebihi standar, yang akan menempatkan mereka beresiko untuk keracunan raksa. Uni Eropa Diperpanjang Dampak Assesment menyatakan bahwa di mana saja dari 3 hingga 15 juta orang di Eropa sendiri telah raksa tingkat yang dianjurkan sekitar batas dan memiliki tingkat persentase sepuluh kali lebih tinggi, di mana terdapat jelas neurodevelopmental efek. (10)

Salah satu bencana industri terburuk dalam sejarah yang disebabkan oleh dumping dari raksa compounds ke Teluk Minamata, Jepang. The Chisso Corporation, yang kemudian pupuk dan perusahaan Petrochemical, ditemukan bertanggung jawab atas pencemaran di teluk 1932-1968. Hal ini diperkirakan lebih dari 3,000 orang-memakan ikan dari danau-menderita berbagai deformities, memutuskanapa raksa gejala keracunan atau kematian dari apa yang kemudian dikenal sebagai penyakit Minamata. (11) di Mahkamah Agung n November 2005 yang diselenggarakan pemerintah pusat dan bertanggung jawab untuk Prefektur Kumamoto penyakit Minamata dalam pemberian 71,5 juta yen dalam kerusakan plaintiffs di negara-terburuk pernah kasus keracunan industri. (12)

Rute utama dari eksposur untuk raksa adalah kekuatan oleh inhalasi dari vapours. Sekitar 80 persen dari inhaled vapours akan diserap oleh jaringan paru-paru. Ini juga mudah menguap penetrates darah-otak dan hambatan yang baik didokumentasikan neurotoxicant. Usus penyerapan kekuatan raksa rendah. E lemental raksa dapat oxidized dalam tubuh ti ssues ke anorganik divalent formulir.

Neurological disorders dan perilaku pada manusia telah diamati berikut inhalasi dari kekuatan uap air raksa. Spesifik termasuk gejala tremors, emosi lability, insomnia, kehilangan memori, perubahan neuromuscular, dan sakit kepala. Selain itu, ada efek pada ginjal dan thyroid. Eksposur yang tinggi juga mengakibatkan kematian. W ith hal carcinogenicity, evaluasi secara keseluruhan, menurut IARC (1993), adalah bahwa logam dan anorganik raksa raksa compounds tidak classifiable untuk carcinogenicity kepada manusia (kelompok 3). J kritis terhadap risiko yang dapat didasarkan karena itu adalah efek neurotoxic, misalnya induksi dari getaran. Efek pada ginjal (ginjal yang tabung kecil) juga harus dipertimbangkan, mereka adalah kunci dalam eksposur ke endpoint anorganik raksa compounds. Efek Mei baik akan dpt dibatalkan, tetapi sebagai eksposur ke masyarakat umum cenderung terus, efek yang mungkin masih relevan. (13)

sumber: http://www.zeromercury.org/fact_sheet/index.html

Sejarah Pertambangan Emas di choco- Columbia

Sejarah Pertambangan di Chocó__

• 1500 beberapa bekas emas kegiatan ditemukan, dari masyarakat adat pre-Columbian
• Periode 1500-1600 Kolonial. Spanyol yang secara manual ekstrak emas di Choco dan Darien, menggunakan daya manusia Indonesia.
• 1600-1820 ekstraksi emas yang intensif tetapi kali ini menggunakan budak yang dibawa dari Afrika.
• dari Perang Kemerdekaan 1820-1900. Kolombia dibayar hutangnya ke Inggris dalam Gold. Manual dan Artisan pertambangan tetap.
• 1900-1980 konsesi yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan pertambangan asing, untuk ekstraksi emas, dan platinum, menggunakan sweeps dan mesin berat. Kerusakan lingkungan hidup dan Sosial
• 1980 – Hari Ini mechanised pertengahan skala pertambangan, dikembangkan secara informal, anti-suku, dan melanggar hukum.
• 2000 – Initiation dari Certified Green Gold program, sebagai alternatif cara untuk mempromosikan perdamaian dan keanekaragaman hayati.
• 2004 – yang diakui internasional untuk bertanggung jawab Asosiasi Pertambangan telah dibuat, berdasarkan pengalaman dari proyek Green Gold di Choco, Kolombia

The Consequences of Mechanised Pertambangan

• Kerusakan hutan dan lahan.
• banyak perubahan pada habitat alam.
• Air, udara dan bumi kontaminasi
• Migrasi, dan pemusnahan spesies karena hilangnya habitat alam dan perusakan dari ekosistem.
• Hilangnya keanekaragaman hayati dan erosi
• Rugi apt tanah untuk pertanian
• Hilangnya ketahanan pangan
• Masalah kesehatan masyarakat dengan
• Lokal migrasi penduduk

info lengkap bisa lihat di http://www.greengold-oroverde.org/ingles/ov_mineria_ing.html

Berita penambangan emas Dari Columbia

* The Green Gold of Columbia: / The Oro Verde Corporation /, oleh Sandra Hernandez
Dikirim di 11 Februari, 2008 oleh Marc Choyt

Pada artikel ini, Sandra membahas path melanggar bekerja di Columbia, di mana emas beranjau ekologis mendukung adat masyarakat pedesaan. ** Perlu dicatat bahwa Oro Verde emas akan segera siap dan mudah tersedia melalui bullion perusahaan yang dikembangkan oleh Greg Valerio.
Sandra membaca dari cerita di bawah ini .**

Saya menulis atas nama Oro Verde Corporation, untuk saya ingin meminta Anda untuk memasukkan kita dalam bagian dari sumber buku Anda. Untuk membiarkan anda tahu sedikit lebih lanjut tentang Oro Verde ^ TM logam, saya memperkenalkan anda dengan program kami:

The Green Gold Certified Program di Choco (Colombia) adalah yang pertama dari program sejenis di seluruh dunia. Ia berusaha untuk mundur yang sangat efektif untuk menyebabkan kerusakan ekosistem ini unik (sebuah keanekaragaman hayati Hotspot) dengan di luar kontrol pertambangan skala besar. Saat ini inisiatif yang sedang dilaksanakan dalam kerjasama dengan 12 Afro-Kolombia masyarakat, di kota yang Condoto dan Tadó. Proyek ini berusaha partisipasi aktif dari masyarakat, yang diwakili oleh dewan masyarakat.

The Oro Verde Corporation, yang lead program ini, telah dibuat pada tahun 2001 sebagai aliansi antara 2 masyarakat dalam dewan Choco (Komunitas Dewan Alto San Juan – ASOCASAN – Masyarakat dan Dewan Condoto – CCMC -), sebuah LSM lokal (Las Mojarras Foundation – Fundamojarras -) dan sebuah LSM berbasis di Medellin (Amigos del Choco Foundation – Amichocó -). Kami berusaha untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan untuk mendukung masyarakat dari Bio-wilayah geografis Choco dalam meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Hal ini dilakukan melalui proses penelitian dan pelatihan, melalui promosi dan aliansi produktif dan sistem yang berkesinambungan melalui penggunaan sumber daya alam. Utama kami selalu menjadi perhatian bagi masyarakat untuk menjadi kuasa; sesuai untuk mereka yang bersama-sama melakukan proyek-proyek kami. Proyek, yang merespons realitas lokal, selalu alamat sosial, ekonomi dan masalah-masalah ekologis.

Untuk sekarang ini, kami telah difokuskan pada Certified Green Gold dan Program pada Analog Forestry Program (Analog Kehutanan merupakan alternatif metode rehabilitasi hutan dan memulihkan keanekaragaman hayati di wilayah ini, dengan menggunakan jenis yang secara ekologis, sosial, ekonomi, kompatibel dengan budaya dan lingkungan).

Kami membeli Oro Verde ^ TM logam (emas dan platinum) dari miners bersertifikat, yang menerima harga yang adil dan manfaat dari kita membuat program untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan membina ketahanan pangan. Kami kemudian menjual emas ini ke jewelers di Kolombia, Amerika Serikat, Inggris, Denmark, dan negara-negara lain. Kami biaya yang lebih dari 10% premi internasional harga emas dan 5% atas premi internasional harga platinum; ini [digunakan] dalam rangka untuk membiayai program-program sosial dan lingkungan di wilayah ini. Jauhari setiap menerima sertifikat yang attests ke asal dan metode ekstraksi dari bahan mereka memperoleh, dan akhir setiap pelanggan menerima sebuah informatif pilot yang mereka beberapa perhiasan dari sisanya. Fliers ini memberitahukan kepada pelanggan akhir tentang aspek sosial dan lingkungan yang dia adalah mempromosikan melalui pembelian sebuah Oro Verde ^ TM perhiasan.

Berdasarkan pengalaman keberhasilan ini dan kebutuhan untuk memperluas ke daerah lain, yang bertanggung jawab untuk Asosiasi Pertambangan (ARM) telah dibuat. Ini adalah sebuah jaringan organisasi independen dalam skala global-upaya untuk meningkatkan standar dan kriteria yang bertanggung jawab untuk artisanal dan pertambangan skala kecil (ASM).

Kami ingin mengajak anda untuk mengunjungi website kami: www.greengold-oroverde.org ARM dan website: www.communitymining.org.

Soal poboya, Pemerintah Harus Temukan Solusi

Palu- Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Tengah (WALHI Sulteng, mendesak pemerintah kota palu untuk menggagas sebuah resolusi terhadap aktivitas masyarakat penambang tromol, agar tidak terjadi multi persepsi dan konflik kepentingan atas sumber daya alam (Deposit emas) di Kelurahan poboya Kecamatan Palu timur, demikian dikatakan kepala divisi advokasi dan kampanye WALHI Sulteng melalui siaran pers yang diterima media ini kemarin tanggal 15/7/ 2009. “ Menurut dia, Soal Polemik tambang poboya, Pemerintah harus membicarakan hal ini kembali secara serius bersama masyarakat, meskipun telah ada Surat keputusan terkait penertiban penambang tromol yang dibuat sebelumya. Hal ini kata dia, bertujuan agar seluru aspirasi dan keinginan masyarakat yang berada dilingkar tambang poboya dapat diakomodir dalam kebijakan yang populis dan tentunya tidak ada yang merasa terabaikan” ungkap andika. Dia menambahkan, Meskipun aktivitas penambang tromol dipoboya masuk dalam kategori membahayakan kondisi lingkungan hidup. Tetapi itu jangan dijadikan sebuah justifikasi publik untuk mengebiri hak-hak yang dimiliki oleh masyarakat poboya. mesti ada solusi yang menjelaskan semua masalah ini, dan tidak serta merta menempatkan masyarakat poboya sebagai pihak yang harus diabaikan demi sejumlah kebijakan yang tidak dipahami masyarakat poboya. Seharusnya sebut andika, ada solusi yang menjelaskan semua masalah ini, dan tidak serta merta menempatkan masyarakat poboya sebagai pihak yang diabaikan demi sejumlah kebijakan yang tidak dipahami masyarakat secara utuh. “saat ini polemik tambang emas di poboya semakin diperluas oleh berbagai tarikan kepentingan yang bermain didalamnya. sehingga sulit menemukan titik dan solusi yang tepat, kita berharap pemerintah melihat masalah poboya dalam kerangka yang lebih bijaksana dengan menempatkan keinginan utama masyarakat poboya” jelasnya. “Kalau pemerintah kota Palu saat ini getol untuk melarang aktivitas tambang tromol oleh masyarakat poboya, pemerintah juga harus konsisten untuk menolak keberadaan PT.Citra Palu Mineral (Anak perusahaan PT. Bumi Resources), untuk mengelola deposit emas poboya. Sebab, logika pemerintah berangkat dari ancaman kerusakan lingkungan hidup, sementara kita pahami bersama bersama bahwa jika poboya ditambang secara konvensional dampaknya akan jauh lebih berbahaya, dengan kadar destruktif yang lebih tinggi, seperti perubahan bentang alam, krisis air, pencemaran udara, tanah, dan air” tegas andika. (RAHMAN)

sumber: http://www.walhi.or.id/websites/index.php?option=com_content&view=article&id=252%3Asoal-poboya-pemerintah-harus-temukan-solusi&catid=122%3Asiaranpers-walhi-sulawesi-tengah&Itemid=119&lang=in

Berita poboya: Jika Emas Poboya Dikelola Secara Arif

Radar Sulteng
Sabtu, 25 Juli 2009
Jika Emas Poboya Dikelola Secara Arif
Wilianita Selviana *)

AKHIRNYA menelan korban jiwa, meski baru dugaan sementara karena kekurangan oksigen seorang penambang emas Poboya meninggal dunia Senin, 20 Juli 2009 yang lalu. Seperti halnya dengan kejadian di Desa Lobu, Parigi Moutong beberapa pekan lalu yang menelan 3 orang korban jiwa tetap tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus menambang. Begitu pula dengan masyarakat Poboya. Bukan hanya deposit emas Poboya yang terancam tetapi keselamatan para penambang juga terancam jika model kelola tambang emas Poboya masih seperti yang berlangsung saat ini. Persyaratan savety prosedur di lubang penambangan yang pernah disarankan oleh petugas dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)Propinsi Sulawesi Tengah sepertinya masih kurang diindahkan. Begitu pula dengan pembatasan penggunaan unit tromol (amalgamisator) yang secara otomatis akan mengurangi penggunaan mercury (Hg) juga diabaikan. Justru jumlah unit tromol tersebut semakin bertambah banyak dari waktu ke waktu dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan pengolahan material yang terus ditambang yang secara langsung memaksimalkan kapasitas produksi emas.

Motivasi ekonomi dengan peningkatan pendapatan secara signifikan yang dirasakan masyarakat penambang terus memacu aktivitas penambangan mereka dari hari ke hari. Hal ini dibuktikan melalui hitung-hitungan yang dilakukan oleh Lurah Poboya Aris, SE., bahwa dalam sehari kurang lebih 1.000 karung material batu yang mengandung emas diambil dari Poboya. Bila diasumsikan satu karung material menghasilkan 5 gram, maka dalam satu hari produksi emas Poboya dari hasil penambangan yang dilakukan masyarakat sebanyak 5 kg. Dan bila dirupiahkan, dengan asumsi 1 gram emas harganya Rp130 ribu atau Rp130 juta per kilogram, maka dalam sehari rata-rata penjualan emas di Kelurahan Poboya mencapai Rp650 juta (Radar Sulteng, Selasa 21/7/2009).

Sangat menggiurkan memang, hingga masyarakat Poboya rela beralih mata pencarian dari petani bawang dan jagung menjadi penambang emas. Padahal beberapa tahun sebelumya, menambang emas hanya menjadi pekerjaan sampingan atau menjadi alternatif ketika hasil panen kurang menghasilkan namun saat ini sudah menjadi sumber pencaharian utama bagi mereka. Bumi Resources (BUMI) pun demikian, melalui anak perusahaanya PT. Citra Palu Mineral (CPM) juga tidak henti-henti berupaya agar dapat melakukan kegiatan ekplorasi dan eksploitasi emas di wilayah Poboya ini yang memang merupakan areal konsesinya. Coba bayangkan sejenak jika deposit emas Poboya tersebut dikelola oleh perusahaan besar berupa Trans National Corporation(TNC) seperti BUMI.

Pasti risiko lingkungan yang jauh lebih besar akan dihadapi di kemudian hari. Juga dapat dipastikan kontribusi yang minim bagi daerah dan masyarakat penambang. Selain itu juga, masyarakat penambang akan semakin sulit berebut wilayah kelolanya di dalam wilayah konsesi yang dieksploitasi perusahaan. Karena itu, penting bagi masyarakat Poboya menentukan kedaulatan atas pengelolaan sumber daya alamnya. Apakah akan menjadi bagian kecil dari satu industri pertambangan skala besar atau menjadi bagian yang besar dari satu aktivitas pertambangan skala kecil yang dikelola secara bersama-sama dan berkeadilan. Pilihan kedua itu akan sangat menarik untuk dipilih dengan memastikan bahwa aktivitas penambangan yang saat ini berlangsung di Poboya tidak dibiarkan begitu saja mengingat kerentanan kondisi ekologis wilayah Poboya dan sekitarnya. Poboya merupakan satu-satunya water catchments area yang paling besar di kota Palu, sehingga jika keseimbangan ekologinya terganggu maka dampak yang ti

Menteri Kehutanan Setujui Proyek Tambang di Tahura Poboya

http://kompas.com/kompas-cetak/0105/03/IPTEK/ment10.htm
>Kamis, 3 Mei 2001

Menteri Kehutanan Setujui Proyek Tambang di Tahura Poboya

Palu, Antara
Menteri Kehutanan (Menhut) Marzuki Usman menyetujui pemanfaatan kawasan Taman
Hutan Raya (Tahura) Poboya di Kotamadya Palu, Sulawesi Tengah, sebagai lokasi
tambang emas. Syaratnya, warga yang bermukim di kawasan tersebut tidak melakukan
penolakan.

“Pada prinsipnya Menhut sudah setuju pemanfaatan lokasi Tahura Poboya sebagai
tambang emas, dengan syarat program ini terlebih dahulu disosialisasikan kepada
masyarakat setempat,” kata Kepala Dinas (Kadis) Kehutanan Sulteng Idris
Makkanyuma di Palu, Rabu (2/5).

Jika masyarakat yang berdiam dalam lokasi Tahura dan desa sekitarnya setuju,
katanya, kegiatan penambangan emas dapat dilakukan. “Sebaliknya, jika warga
menolak, Menhut juga tidak akan memaksakan diri,” tambah Makkanyuma.

Ia juga mengatakan, sekalipun pemerintah pusat telah menerbitkan kontrak karya
kepada PT Citra Palu Minerals (CPM) sejak tahun 1997 untuk menambang emas di
Tahura Poboya, Menhut Marzuki Usman tidak akan menyetujui dilakukannya kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi apabila perusahaan bersangkutan tidak mengantungi
rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Sulteng.

“Bila Pemprov (Pemerintah Provinsi) Sulteng menyetujui penambangan emas itu,
pada prinsipnya Menhut tidak keberatan PT CPM terus melakukan kegiatannya.
Demikian sebaliknya,” ujar Makkanyuma.

Tak setuju

Sebelumnya, Gubernur Sulteng Aminuddin Ponulele menegaskan bahwa pihaknya tidak
akan pernah menyetujui penambangan emas di lokasi Tahura Poboya, termasuk oleh
PT CPM yang telah mengantungi izin kontrak karya dari pemerintah pusat.

PT CPM sendiri konon telah mengalihkan kewenangan penambangan emas di kawasan
tersebut kepada perusahaan asal Australia, New Crest.

“Saya tidak pernah setuju dengan rencana penambangan emas itu, sebab dampak
lingkungannya sangat besar untuk dipikul warga Kota Palu,” tegas Ponulele.

Bahkan, menurut Gubernur Ponulele, jika kegiatan penambangan emas di Tahura-yang
terletak di pinggiran Kota Palu dan berada di atas ketinggian 50-100 di atas
permukaan laut-itu diteruskan, dikhawatirkan dapat mengancam permukiman penduduk
setempat karena menimbulkan air bah jika hujan lebat turun.

“Jadi penolakan kami ini bukan menghambat pembangunan ekonomi, tetapi
semata-mata untuk kebaikan anak cucu kita di masa mendatang,” kata Ponulele.

Pada saat peringatan Hari Bumi di Palu tanggal 22 April 2001, ratusan warga asal
Dusun Vatutela-termasuk dalam kawasan Tahura Poboya-sempat menggelar aksi unjuk
rasa menolak kehadiran PT CPM.

“Kami tidak pernah menyetujui kehadiran PT CPM, karena hanya akan merampas tanah
dan kebun kami serta merusak lingkungan hidup di sini,” kata Asrul, Ketua RT
Dusun Vatutela kepada wartawan di Vatutela, sekitar 13 km timur Palu.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Daerah (Bapedalda), dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulteng juga
menolak secara tegas kegiatan penambangan emas di lokasi Tahura yang merupakan
areal konservasi plasma nutfah. *

60 Patung Hilang Di Poso

At least 60 statues which date back to the stone age have been found missing in six districts across the Central Sulawesi regency of Poso. Poso Regent Piet Inkiriwang said Tuesday the ancient statues may have been stolen during the prolonged sectarian conflict that occurred from 1998 to 2006, and then sold to foreign collectors in Europe and the US. Hendrik Tauro, head of the regency’s education, culture and tourism agency, said there were roughly 1,000 Megalithic statues scattered about the districts of Lore Utara, Lore Timur, Lore Selatan, Lore Barat, Lore Tengah and Lore Teore, which borders Donggala regency. “We were only aware of the theft at the end of last year. After months of searching, we found some of the missing statues in Bali. We then heard of a French tourist who bought a statue for Rp 500 million,” Hendrik told kompas.com. A number of studies concluded that the statues date back to the first ever civilization in Central Sulawesi

sumber http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/11/dozens-ancient-statues-stolen-poso.html