Archive for September, 2009
Dipalu Ga Ada Bioskop?
Sep 28th
TEMPO Interaktif, Palu – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palu berupaya menghidupkan kembali bioskop-bioskop yang telah tutup belasan tahun terakhir.
Kepala Dinas, Sudaryano Lamangkona, Ahad (13/9), mengatakan, “Seandainya bioskop itu ada saya optimis bioskop tersebut bisa hidup dan menghibur masyarakat.”
Ia mencanangkan berusaha menarik investor yang mau menanamkan modalnya untuk menghidupkan kembali bioskop-bioskop di ibu kota Sulawesi Tengah itu.
Ia mengakui menghidupkan kembali bioskop tidak mudah sebab alternatif tontonan sangat banyak. Olehnya, akan dipikirkan jalan keluar agar bioskop yang dibangun memiliki daya tarik bagi masyarakat.
Sejumlah warga kota menyatakan setuju ide Kadis Pariwisata itu. Farid Javar Nasar, Warga Sis Aljufri Palu Barat misalnya, mengaku selama ini dirinya tak bisa mengakses hiburan karena di Palu tak ada bioskol.
Ia juga merasa aneh kota Palu sebagai ibukota provinsi tak punya bioskop. “Tidak usah yang sekelas bioskop 21, yang sederhana saja asal ada,” katanya.
MAL TATURA PALU AKAN KEMBANGKAN BISNIS PERHOTELAN
Sep 28th
Palu, 18/9 (Antara/FINROLL News) – Setelah sukses mengembangkan bisnis mal, Pemkot Palu di Sulawesi Tengah melalui manajemen Mal Tatura Palu akan melirik lagi bisnis perhotelan karena dinilai memiliki prospek yang cerah.
“Ke depan kami akan kembangkan lagi bisnis perhotelan. Rencana awal tahun 2010 sudah peletakan batu pertama,” kata Direktur Utama Mal Tatura Palu, Karman Karim, di Palu, Jumat.
Pemkot Palu saat ini menguasai 98 persen saham di Mal Tatura. Menurut Karman, manajemen akan mengembangkan sebagian dari areal mal yang masih kosong untuk bisnis perhotelan.
Di belakang gedung pusat belanja berlantai empat tersebut masih terdapat 1.056 meter persegi yang rencananya akan dikembangkan untuk perhotelan.
Kendatipun persaingan bisnis perhotelan di Palu cukup tinggi, Karman optimistis prospek bisnis jasa ini sangat menguntungkan karena didukung dengan lingkungan pusat perbelanjaan.
“Kita punya prospek pasar jauh lebih bagus karena hotelnya satu dengan mal. Apalagi nanti akan kita bangun karaoke `happy puppy`,” katanya.
Karaoke happy puppy adalah karaoke keluarga yang sudah diperkenalkan di Indonesia oleh Santoso tahun 1992 di Surabaya. Konsep karaoke ini sudah berkembang luas di kota-kota besar.
Karman mengatakan, Mal Tatura Palu akan dilengkapi dengan karaoke happy puppy sebagai daya tarik sehingga membuat tamu hotel lebih betah.
Ia menambahkan, untuk pembangunan hotel, pihaknya sudah memiliki calon investor, sehingga pemerintah daerah tidak akan mengeluarkan lagi dana untuk pembangunannya.
“Pemerintah kota tidak akan keluarkan dana lagi karena investor yang akan menanggung semuanya,” kata dia.
Hanya saja harus diakui kata Karman kepemilikan saham nantinya akan lebih besar dikuasai pihak investor.
Wakil Walikota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu, membenarkan bahwa rencana pengembangan bisnis perhotelan di Mal Tatura Palu sudah ada investornya. Bahkan telah sampai pada penandatanganan nota kesefahaman (MoU).
“Sekarang kami tinggal bicara teknis saja, karena sebelumnya sudah beberapa kali dilakukan pertemuan dengan investor,” kata Mulhanan.
Mulhanan belum bersedia memberikan keterangan investor yang akan digandeng dalam merambah bisnis perhotel tersebut.
Tentang adanya isu bahwa Pemkot Palu akan menggandeng Aburizal Bakrie, Mulhanan tidak memberikan komentar.
Dia menyatakan, rencana pembangunan hotel tersebut tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Palu.
Bisnis Perhotelan di Palu Menjanjikan
Sep 28th
PALU- Meski telah berdiri beberapa hotel berbintang di Kota Palu, namun peluang investasi bisnis perhotelan di Kota Teluk ini dirasa masih cukup menjanjikan. Hal ini bukannya tanpa alasan.
Bebicara sebagai ketua Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PPHRI Sulteng, Lukky Semen mengatakan, bisnis perhotelan di Kota Palu ke depan masih cukup potensial meski belum ditunjang dengan fasilitas pariwisata yang memadai.
Kata Lukky, berdasarkan catatan PPHRI Sulteng jumlah hotel dan di Sulteng khususnya di Kota Palu dengan ketersediaan kamar yang ada masih sangat sedikit jika ada iven yan bersifat nasional di kota ini. ‘’Untuk hotel kelas melati sampai bintang tiga hanya tersedia sekitar 1.200 kamar, ini masih sangat sedikit untuk memenuhi bila ada iven nasional di daerah ini,’’ katanya.
Karena itu, kata Lukky, kondisi seperti ini merupakan peluang bagi bisnis perhotelan di daerah ini untuk berkembang.”Peluang bisnis perhotelan di Palu masih terbuka. Okupansi hotel jika ada iven nasional sangat besar,’’ katanya, kemarin (23/9).
Dikatakan, iven nasional seperti peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Palu menjadi peluang bagi hotel-hotel untuk meraup tamu. Iven yang akan digelar bulan April dan Juli 2010 medatang diperkirakan akan menghadirkan tamu dari seluruh Indonesia sebanyak 10.000 orang.
Jumlah tamu itu terbagi dalam dua bagian yakni, pada bulan April sebanyak 5.000 orang dari kalangan pejabat kepala dinas, dan bulan Juli sebanyak 5.000 orang dari kalangan pejabat di bawah kepala dinas.
Ketersediaan kamar hotel kelas melati dan bintang tiga sebanyak 1.200 kamar tidak dapat memenuhi jumlah tamu yang hadir nanti. ‘’Karena itu PPHRI diminta untuk mencari jalan keluarnya, mungkin peninapan milik pemerintah akan digunakan,’’ katanya.
Selain itu, kata Lukky, Palu sebagai kota transit sangat menunjang bisnis perhotelan. Saat ini banyak warga Sulbar terutama pejabat pemerintah yang memilih transit di Palu jika akan berangkat ke Jakarta . Sebab jaraknya relatif dekat ke Palu disbanding ke Makassar .
Meski pejabatnya memiliki keluarga atau rumah di Palu, namun mereka cenderung memilih tinggal sementara di hotel. Sebab, ini menyangkut pertanggung jawaban keuangan yang harus dipakai sesuai peruntukannya.
KRISIS LISTRIK
Krisis energi listrik di Kota Palu yang belum teratasi sangat berdampak pada bisnis perhotelan yang ada. Karena itu, para pengusaha di bidang ini mengharapkan kepada pemerintah agar segera mengatasi krisis listrik tersebut.
Direktur Hotel Sentral H Ahrul Udaya mengakui pihaknya harus mengeluarkan biaya operasional yang besar sejak krisis listrik terjadi di Kota Palu. Hal itu harus dilakukan karena pelayanan kepada tamu hotel tidak boleh terganggu.
‘’Lampu hotel harus menyala terus, otomatis biaya operasional hotel naik karena harus mengoperasikan mesin genset,’’ katanya.
Kata Ahrul, selain biaya operasional hotel yang naik, biaya tak terduga juga tak bisa dihindari. Sebab, dengan kondisi listrik yang tidak memadai mengakibatkan beberapa fasilitas kamar hotel seperti air conditioner (AC) mengalami kerusakan. ‘’Belum lagi kerusakan pada meter jumping dan biaya solar untuk mengeoperasikan mesin genset,’’ kata Ahrul.
Hal senada dikatakan pemilik Grand Duta Hotel Lukky Semen. Katanya, energi listrik merupakan urat nadi bagi bisnis hotel. Tanpa disupali oleh energi listrik yang memadai bisnis hotel di Palu sulit untuk berkembang.
Sebagai pengusaha di bidang jasa perhotelan tentunya harus mengatasi sendiri masalah tersebut, sehingga tidak sampai mengganggu pelayanan kepada pelanggan. ‘’Kami tentunya tidak berdiam diri, kami harus antisipasi meski dengan konsekuensi biaya operasional tinggi. Kami juga berharap pemerintah dapat segera mengatasi krisis listrik di Palu,’’ kata Lukky.(sya)
sumber radar sulawesi tengah
Tips Disaat Gempa
Sep 14th
Tip Praktis NLP#76: Joget Sumo “Cara tetap tenaaang saat Gempa! Gempa! Gempa!”
Joget irama gempa
Saat banyak orang panik lari tunggang-langgang keluar ruangan, dipanggung Student Center FE-UI Depok, saya malah berwaspada dengan berjoget Sumo perlahan mengikuti irama gerakan gempa, saat terjadi gempa Rabu, 2 September 2009 sekitar jam 15:00 lalu.
Hal ini malah membuat peserta yang hadir di acara Seminar UKM-CSR yang diselenggarakan oleh mahasiswa UI, bingung tapi ikutan tenang dan tetap bersiaga, tanpa rasa panik yang berlebihan. Bahkan saya tetap memberikan “ceramah” dalam suasana gempa tersebut. Sebuah pengalaman batin yang luar biasa, paling tidak buat saya pribadi.
Mengapa saya punya ide berjoget Sumo?
Cerita ini berasal dari sebuah ide terapi saat saya menjadi relawan Tsunami Aceh akhir tahun 2004 lalu. Karena umumnya mereka yang selamat dari Tsunami, mengalami trauma berat. Salah satu tantangannya adalah bagaimana mengatasi trauma pasca gempa, khususnya untuk anak-anak kecil?
Pakai Hypnotherapy, ya nggak mungkin. Wong, pejamkan mata aja membuat anak-anak berteriak panik, karena memori serem ombak menerkam, melintas kembali. Singkat cerita, datanglah teman lama saya si Ilham yang muncul tiba-tiba di benak saya, yakni berupa Game Therapy.
Untuk terapi anak-anak, kuncinya adalah bermain. Ide dasar ini sebenarnya berawal dari DR. John Grinder pencipta New Code NLP yang saya ikuti di Kuala Lumpur, sekitar awal tahun 2005 lalu. Rupanya program ini masih ter-install di otak saya he he… Dan, ternyata lumayan berguna…
Sebelum kita membahas ide “Terapi Joget Sumo”, marilah sedikit kita kupas…
Mengapa kita bisa panik?
Karena di otak kita tidak (baca: belum) punya strategi yang tenang untuk mengatasi situasi yang mengejutkan, selain strategi panik, ngacir dan teriak-teriak. Jika kita memiliki beberapa strategi mengatasi situasi yang mengejutkan, maka kita akan tetap tenang dan tetap siaga.
Saya teringat saat masih bekerja sebagai IT Manager sekitar 10 tahun lalu, saat itu saya berada di lantai 6 di gedung tempat saya bekerja. Karena hampir seluruh lantai adalah milik Konglomerat tempat kami bekerja, jadi umumnya kami saling kenal, paling tidak saling tahu satu sama lain.
Nah, yang membuat saya shok adalah saat terjadi gempa, seluruh teman saya ngacir menyelamatkan diri lewat tangga darurat tanpa memikirkan orang lain. Bahkan, salah seorang pejabat tinggi, tega menginjak bawahannya untuk secepatnya turun tangga. Sungguh mengerikan. Seorang teman yang hamil, bahkan ditinggalkan begitu saja.
Waktu itu, saya memilih untuk mengajak teman-teman kerja saya untuk tenang dan memilih berlindung di samping meja atau lemari yang kuat, karena saya tahu teori bagaimana mengatasi gempa.
Namun, umumnya orang panik luar biasa. Setelah selesai gempa, barulah para “bos” tersebut malu dengan “kelakuannya” tadi. Nginjek temen (baca: bawahan atau anak buah) nih yeee he he…
Teman-teman sekerja saya panik dengan gempa, saya “panik” lihat kelakukan para “Bos” saya ha ha ha…
Nah, bagaimana agar kita tetap tenang saat mengalami gempa? Otak kita perlu di-install program yang merespon tenang dan tetap waspada. Bagaimana caranya? Mudah saja…
Tahap awal: Buang dulu semua trauma terkejut
Ya, program Terapi Joget Sumo hanya bisa aktif dan efektif, bila program yang lama dibuang dulu. Cara yang paling mudah dan sederhana adalah meniupnya jauh-jauh sampai hilang.
Begini urutannya:
1. Pikirkan kembali sebuah pengalaman yang membuat Anda sangat terkejut. Bagaimana respon Anda? Apa yang Anda rasakan? Ada dimana gambarannya di benak Anda? Di depankah, di kirikah, di kanankah, di belakangkah atau dimana?
2. Bersyukurlah bila ketemu he he, karena banyak orang sering bingung dimana dia meletakkan trauma masa lalu dalam hidupnya.
Lalu, tarik nafas yang dalam, tahap selama mungkin dan hembuskan nafas Anda melalui mulut, sekeras-kerasnya untuk mendorong, untuk membuang, untuk menyingkirkan segala gambaran, segala pengalaman trauma terkejut tersebut.
Ulangi, langkah nomor 2 ini, sampai trauma tersebut benar-benar kabur dari benak Anda.
3. Setelah selesai, bernafaslah semakin perlahan dan sangat perlahan…
4. Jika memungkinkan, petiklah hikmah dari kejadian trauma tersebut. Misal: menyebutkan dalam hati: “Allah Maha Besar”
Hanya begini saja caranya? Ya, semudah itu saja. Gak percaya, ya nggak apa-apa ha ha ha… (jadi ingat tawanya Mbah Surip)
Catatan:
1. Bagi Anda yang mau jadi relawan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami trauma akibat gempa, gunakan saja teknik sederhana di atas. Sangat mudah. Kuncinya ada di sikap saja. Akhlak dan niat tulus saja yang menentukan keberhasilan teknik yang sungguh sangat sederhana ini yakni:
“Berikan Hatimu… Maka engkau akan temukan jawabannya disana…”
Demikian teringat pesan Mbah saya, Bapak Uskup Sinaga dari Medan, saat kami jadi relawan Tsunami disana…
2. Usahakan untuk berdoa dulu, minta kuasaNYA, minta ijinNYA, minta restuNYA sebelum melakukan terapi di atas. Bagaimanapun kita hanyalah alatNYA saja… Biarlah kita hanya jadi saranaNYA saja…
Tahapan Install Terapi Joget Sumo
Nah, sekarang mari kita meng-install program “Terapi Joget Sumo”, begini idenya. Tapi sekali lagi, ide ini pas untuk saya dan anak-anak yang pernah kami terapi baik saat Tsunami Aceh ataupun Gempa Jogja, semoga bisa pas juga untuk orang banyak. Semoga aja yaaa…
- Buat posisi Anda atau klien Anda, yaitu anak-anak seperti posisi orang mau beradu Sumo.
- Hentakan perlahan kaki kiri, lalu hentakan perlahan kaki kanan. Ulangi hentakan, kaki kiri… hentakan kaki kanan… Kaki kiri… Kaki kanan… terus ulangi dan ulangi, kecepatan hentakan bisa dibuat makin cepat dan makin cepat.
- Saat hentakan kaki, kepala boleh ikut bergoyang mengikuti arah langkah. Kaki kiri dihentakan, kepala bergoyang juga ke kiri… Gerakan Sumo ini, boleh dibuat menjadi lucu dan gembira.
- Setelah kira-kira Anda atau klien Anda dalam situasi yang asyik, barulah masukan ke dalam benak Anda atau klien Anda, kalimat sugesti berikut: “Gempaaa Bumiii… gempaaa bumiii…”. Ulangi dan ulangi, sampai terasa biasa saja.
- Terus lakukan, sampai Anda atau klien Anda yang mengatakannya sendiri kalimat sugesti tadi: “Gempaaa Bumiii… gempaaa bumiii…”
- Amati dan amati, baik sekali jika sudah terasa nyaman, kecepatan menyebutkan kalimat sugestinya diucapkan lebih cepat, seperti: “Gempa bumi!!! Gempa bumi!!!”
- Menarik dan uniknya, traumapun langsung “plooong” lenyap. Demikian pengalaman saya selama ini dalam menangani saudara-saudara yang mengalami trauma gempa.
Pelajari dan kuasai teknik sederhana di atas, sampai menjadi seperti bermain. Dan, bisa Anda gunakan untuk diri saya sendiri, juga untuk membantu orang lain.
Pengalaman Gempa di Apartemen lantai 20
Pernah saat mau tidur di suatu malam, terjadi getaran gempa. Sebenarnya biasa saja, namun karena saya sedang berada di sebuah apartemen lantai 20, ceritanya menjadi lain, tauk! Sereeem juga ha ha ha…
Para penghuni apartemen panik, berteriak, histeris dan berlari turun melalui lantai. Wow, perlu puluhan menit untuk tiba di lantai dasar, bukan? Malah, kalau benar terjadi runtuh, kecil kemungkinan saya bisa “mendarat” dengan selamat di tanah, bukan? Demikian saran benak saya he he…
Lalu, apa yang saya lakukan?
Saya hanya ikut bergoyang mengikuti kemana goyangan gempa saja, sambil tetap berbaring di ranjang. Lalu, saya hanya berdoa pasrah dan pasrah. Jika aku harus kembali kepada Dia yang memiliki nafas ini, biarlah saya kembali dalam keadaan berdoa…
Ah, maaf. Saya hanya berbagi perasaan saja. Nggak usah sedih he he… Ini hanyalah sedikit cerita saja. Entah kenapa, saya teringat pada sebuah syair yang saya tulis saat dalam perjalanan di bus malam dari Pontianak menuju kota Sintang, di pedalaman Kalimantan Barat. Saat itu mungkin sekitar jam 2 atau 3 pagi dini hari.
Syair itu mengajak berandai-andai bagaimana bila terjadi hari terakhir itu? Semoga bisa menjadi obat dari kepanikan diri ini dan juga semoga memotivasi yooo…
Ijinkan aku kembali
Ah, kadang aku suka berandai
Ya, hanyalah berandai-andai saja
Akan kujawab apa saat dipanggil Nya?
Bolehkah kujawab ijinkan aku kembali
Banyak hal yang belum kuselesaikan
Banyak hal yang masih kusia-siakan
Banyak kelalaian yang belum kubayar
Ijinkan aku kembali
Banyak keliru yang belum kuperbaiki
Banyak kotoran yang belum kubersihkan
Banyak debu yang belum kusapu
Ijinkan aku kembali
Aku malu dengan diriku
Aku lalai dengan misiku
Ijinkan aku kembali
Semoga masih ada waktu kedua
Ya, hanya semoga
Pontianak, 20 Agustus 2009
Krishnamurti – sedang di bus malam menuju Sintang
Harapan cerita
Demikian syair yang saya tulis dengan Black Berry saya malam itu, sebenarnya lebih untuk refleksi diri saya sendiri saja. Karena saya sulit tidur di bus malam saat itu, namun yang terus muncul dalam diri saya adalah reflektif dan reflektif…
Semoga syair ini bisa membangkitkan diri Anda juga, untuk terus berkarya dan berkarya bagi sesama. Berbagi dan berbagi. Berbuat kebenaran dan kebenaran.
Terus menebar energi bersih bagi kehidupan ini. Sehingga saat ada gempa kembali, Anda tenang menghadapinya. Karena sudah siap…
Palembang, 3 September 2009
Krishnamurti – di pesawat terbang dari Jakarta menuju Palembang.
Tambahan sedikit:
- Dengan senang hati, jika menurut Anda artikel ini bisa membantu orang banyak, monggo untuk di-copy paste, di posting di blog Anda, diperbanyak, di-forward atau disebarluaskan. Cukup tuliskan sumbernya saja…
- Bila ada pertanyaan, perlu bantuan, perlu penjelasan, perlu pelatihan untuk teknik ini atau hal lainnya, silakan email saya di krishnamurti@indo.net.id
- Jika ada saudara, kerabat, teman atau siapapun yang mengalami trauma akibat gempa Jawa Barat kemarin, dan perlu bantuan mendesak untuk dipandu, boleh hubungi langsung ke HP saya di 0816 1815 333 semoga saya bisa membantu. Jika ada korban trauma dalam jumlah besar dan perlu bantuan terapi, dapat diatur berkumpul ke Radio Sonora di Bandung.
sumber Portalnlp.com
Gede Prama: Nur Dari Timur
Sep 14th
Ia yang pernah hidup di Barat tahu kalau berbicara itu amat penting. Dibandingkan kehidupan di Timur, lebih banyak hal di Barat yang diekspresikan dengan kata-kata. Fight, argue, complain, itulah ciri-ciri manusia yang disebut ‘hidup’ di Barat. Tanpa perlawanan, tanpa adu argumentasi, orang dianggap ‘tidak hidup’ di Barat. Intinya, melawan itu kuat, diam itu lemah, melawan itu cerdas, pasrah itu tolol.
Dengan latar belakang berbeda, pola hidup ala Barat ini kemudian menyebar cepat melalui televisi, internet, radio, media cetak dll. Dengan bungkus seksi demokrasi, hak-hak azasi manusia, semua ini dibawa ke Timur. Sehingga dalam banyak keadaan (Jepang angka bunuh dirinya terus naik, Thailand mengalami guncangan-guncangan politik, Pakistan ditandai oleh sejumlah pembunuhan politik), banyak manusia di Timur mengalami kebingungan roh Timur dengan baju Barat.
Perhatikan kehidupan desa sebagai barometer, setiap pagi burung-burung bernyanyi. Tanpa banyak berdebat siapa yang akan menjadi presiden, ke mana arah masa depan, partai apa yang akan menang, dengan seluruh kesederhanaannya burung-burung bernyanyi. Sekarang bandingkan dengan kehidupan manusia yang dikatakan memiliki kelebihan (akal, budi, rasa). Dulu, banyak manusia yang bernyanyi di kamar mandi. Sekarang, disamping semakin sedikit yang bernyanyi, waktu yang dulu diisi dengan nyanyian diganti dengan keluhan. Di desa yang banyak burungnya, namun manusianya banyak menonton televisi (sebagai catatan, realita di desa amat sederhana, tontonan di televisi amat menggoda), tema hidup setiap pagi adalah “burung menyanyi, manusia mencaci”.
Berhenti melawan kemudian mengapung
Bayangkan seseorang yang tidak bisa berenang kemudian tercemplung ke sungai yang dalam. Pertama-tama ia melawan. Setelah itu tubuhnya tenggelam. Karena tidak bisa bernafas, meninggallah ia kemudian. Anehnya, setelah meninggal tubuhnya mengapung di permukaan air. Dan alasan utama kenapa tubuh manusia meninggal kemudian mengapung karena ia berhenti melawan.
Ini memberi inspirasi, sebab utama kenapa kehidupan banyak manusia tenggelam (baca: stres, depresi, banyak penyakit, konflik, perang) karena terus menerus melawan. Yang jadi guru mau jadi kepala sekolah. 0rang biasa mau jadi presiden. Pegawai buru-buru mau kaya seperti pengusaha. Intinya satu, menolak kehidupan hari ini agar diganti dengan kehidupan yang lebih ideal kemudian.
Tidak ada yang melarang seseorang jadi presiden maupun pengusaha kaya, cuman sebagaimana diajarkan alam, semua ada sifat-sifat alaminya. Seperti burung sifat alaminya terbang, serigala berlari, ikan berenang.
Suatu hari konon binatang iri sama manusia karena memiliki sekolah. Tidak mau kalah, kemudian didirikan sekolah berenang dengan gurunya ikan, sekolah terbang gurunya burung, sekolah berlari gurunya serigala. Dan setelah mencoba bertahun-tahun semua binatang kelelahan. Di puncak kelelahannya, baru sadar kalau semuanya memiliki sifat alami masing-masing. Dalam bahasa tetua di Jawa, puncak pencaharian ketemu tatkala seseorang mulai tahu diri.
Meditasi tanpa perlawanan
Nyaris semua manusia, begitu berhadapan dengan permasalahan, penderitaan langsung bereaksi mau menyingkirkannya. Bosan kemudian cari makan. Jenuh kemudian cari hiburan. Sakit kemudian buru-buru mau melenyapkan penyakit dengan obat. Inilah bentuk konkrit dari hidup yang melawan. Sehingga berlaku rumus sejumlah psikolog what you resist persist. Apa saja yang dilawan akan bertahan. Ini yang menerangkan kenapa sejumlah kehidupan tidak pernah keluar dari terowongan kegelapan karena terus melawan.
Berbeda dengan hidup kebanyakan orang yang penuh perlawanan, di jalan-jalan meditasi manusia diajari untuk tidak melawan. Mengenali tanpa mengadili. Melihat tanpa mengkotak-kotakkan. Mendengar tanpa melakukan penghakiman. Bosan, sakit, sehat, senang, sedih semuanya dicoba dikenali tanpa diadili. Ia yang rajin berlatih mengenali tanpa mengadili, suatu hari akan mengerti.
Dalam bahasa Inggris, mengerti berarti understanding, bila dibalik menjadi standing under. Seperti kaki meja, kendati berat menahan, ia akan berdiri tegak menahan meja. Demikian juga dengan meditator. Permasalahan tidak buru-buru dienyahkan, penderitaan tidak terlalu cepat disebut sebagai hukuman, tetapi dengan tekun ditahan, dikenali, dipelajari. Setelah itu terbuka rahasianya, ternyata keakuan adalah akar semua penderitaan. Semakin besar keakuan semakin besar penderitaan, semakin kecil keakuan semakin kecil persoalan. Keakuan inilah yang suka melawan.
Indahnya, sebagaimana dialami banyak meditation master, ketika permasalahan, penderitaan sering dimengerti dalam-dalam sampai ke akar-akarnya, diterangi dengan cahaya kesadaran melalui praktek meditasi, ia kemudian lenyap. Ini mungkin sebabnya kenapa Charlotte Joko Beck dalam Nothing Special menulis: “Sitting is not about being blissful or happy. It’s about finally seeing that there is no real difference between listening to a dove and listening to sombody criticizing us“. Inilah berkah spiritual meditasi. Tidak ada beda antara mendengar merpati bernyanyi dengan mendengar orang mencaci. Keduanya hanya didengar. Yang bagus tidak menimbulkan kesombongan. Yang jelek tidak menjadi bahan kemarahan. Pujian berhenti menjadi hulunya kecongkakan. Makian berhenti menjadi ibunya permusuhan.
Tatkala melihat hanya melihat. Ketika mendengar hanya mendengar. Perasaan suka-tidak suka berhenti mensabotase kejernihan dan kedamaian. Meminjam lirik lagu Bob Marley dalam Three little birds: don’t worry about the things, every single thing would be alright. Tidak usah khawatir, semuanya sudah, sedang, dan akan berjalan baik-baik saja. Burung tidak sekolah, tidak mengenal istilah kecerdasan namun terhidupi rapi oleh alam, apa lagi manusia. Inilah meditasi tanpa perlawanan. Paham melalui praktek (bukan dengan intelek) kalau keakuan akar kesengsaraan. Begitu kegelapan keakuan diterangi kesadaran, ia lenyap. Tidak ada yang perlu dilawan.
Seorang guru yang telah sampai di sini berbisik: the opposite of injustice is not justice, but compassion. Selama ketidakadilan bertempur dengan keadilan, selama itu juga kehidupan mengalami keruntuhan. Hanya saling mengasihi yang bisa mengakhiri keruntuhan. Sejumlah sahabat di Barat yang sudah membadankan kesempurnaan meditasi seperti ini, kerap menyebut ini dengan Nur dari Timur. Cahaya penerang dari Timur di tengah pekatnya kegelapan kemarahan, kebencian, ketidakpuasan, kebodohan. Seperti listrik bercahaya karena memadukan positif-negatif, meditasi hanyalah perpaduan kesadaran-kelembutan yang membuat batin bisa menerangi dirinya sendiri.
Teknik Terbang Burung Walet Diaplikasikan ke Pesawat
Sep 14th
Teknik Terbang Burung Walet
Teknik Terbang Burung Walet Pernahkah anda melihat tornado atau pusaran angin puting-beliung? Semua benda yang
berada di sekeliling tornado akan dibawa terbang masuk ke dalam pusarannya, seperti dihisap ke arah sumbu tornado.
Mengapa begitu? Karena tekanan udara di dalam tornado lebih kecil dari tekanan udara di sekitarnya. Perbedaan
tekanan udara yang ditimbulkan cukup besar untuk menarik benda-benda seperti drum minyak, atap rumah, dan bahkan
seekor kerbau ke dalam pusaran tornado. Lalu, apa hubungannya dengan burung walet? Apakah burung walet mampu
terbang menembus pusaran tornado? Begini ceritanya. Ada jenis pesawat jet tempur yang dilengkapi dengan
sepasang sayap yang dapat dilipat ke belakang dan dikembangkan lagi. Jenis sayap seperti ini disebut swept-wing,
dan sayap jenis inilah yang memberikan kemampuan terbang cepat dan membelok tajam bagi pesawat jet tempur
– seperti kemampuan seekor burung walet. Lucunya, para insinyur penerbangan sudah memanfaatkan keunikan
burung ini, jauh sebelum para ilmuan memahami dan menjelaskannya. Bukan saja peswat jet tempur Amerika, F-14
Tomcat yang menggunakan teknik burung walet ini, tetapi pesawat jet penumpang jenis Concorde juga. Kedua jenis
pesawat terbang di atas membutuhkan kecepatan tinggi ketika terbang, tetapi juga kemampuan untuk memperlambat
kecepatannya ketika hendak mendarat, tanpa kehilangan ketinggian, atau lebih baik dikatakan tanpa kehilangan
kemampuan untuk mempertahankan ketinggian yang tepat, sebab mengurangi kecepatan berarti mengurangi daya
dorong ke atas dari udara. Pernahkah anda memperhatikan seekor burung ketika hendak mendarat atau hinggap di
cabang pohon? Itu juga adalah salah satu dari rahasia burung walet yang akan diungkap di sini.
Sejak tahun 1996, para ilmuan sudah tahu bahwa serangga menggunakan gejala tornado yang disebut vortex, yaitu
aliran udara yang berputar, untuk terbang. Tetapi, menghubungkan bentuk khas sayap burung dengan vortex-nya
serangga adalah sesuatu hal yang hampir mustahil untuk diperagakan dan diamati. Sekitar tahun 2004, para
ilmuan membuat model sayap burung walet dan menempatkannya di dalam lorong air yang berfungsi seperti lorong
udara (air-tunnel). Air sengaja diberi warna agar aliran air yang timbul bisa lebih mudah diamati. Ternyata, model sayap
walet dengan bentuk khusus ini menimbulkan semacam aliran vortex di bagian atas model sayap tersebur. Seperti pada
tornado, tekanan rendah di dalam vortex seperti menghisap sayap burung walet ke atas. Vortex yang terlihat di dalam
percobaan water-tunnel tersebut menghasilkan dua hal, masing-masing daya angkat yang besar dan hambatan yang
besar untuk semua kecepatan. Ketika terbang cepat, baik burung maupun pesawat jet dengan swept-wings akan
melipat sayapnya ke belakang. Ketika akan tinggal landas atau mendarat, sayap dibentangkan kembali untuk
mendapatkan daya angkat udara yang lebih besar. Sama halnya, baik F-14 Tomcat maupun burung walet mampu
membelok tajam ke atas dengan mengatur sayapnya untuk menghasilkan tornado yang menariknya ke atas.
Kemampuan maneuver semacam inilah yang memampukan burung walet untuk menyambar serangga di udara. Ketika
burung walet hendak mendarat, hambatan udara yang dihasilkan memperlambat terbangnya, tetapi daya angkat udara
yang dihasilkan menahannya untuk tidak jatuh ke tanah karena kecepatan yang rendah, tetapi bisa mencapai dahan
pohon yang ditujunya. Hal ini juga memberikan penjelasan, bagaimana kira-kira burung yang lain mendarat. Lebih
dari sayap serangga atau sayap pesawat jet tempur, sayap burung terdiri dari dua bagian. Bagian yang dekat ke
badannya adalah arm-wing yang berfungsi untuk menghasilkan tekanan udara ke atas secara konvensional seperti
layaknya sayap pesawat terbang. Bagian sebelah luar disebut hand-wing, yang memiliki sisi depan yang tajam,
sehingga mampu menghasilkan tornado dalam posisi sedikit miring. Sementara sayap serangga harus membentuk
kemiringan sebesar 25o untuk menghasilkan vortex, sayap burung walet hanya membutuhkan kemiringan 5 –
10o saja. Selain burung albatross dan burung laut raksasa (giant petrel), semua burung memiliki konstruksi sayap
yang kurang-lebih-sama. Oleh sebab itu, teknik terbang burung walet ini dapat diterapkan ke burung-burung tersebut
juga. Penjelasan di atas ini pasti akan mengubah pengertian banyak orang dalam hal bagaimana burung terbang.
Tetapi haruslah diingat bahwa alam selalu berada di depan para insinyur/teknisi dan ilmuan. Di dalam hal penggunaan
teknik tornado atau vortex di dalam tebang akrobatik burung walet, para ilmuan hanya baru mengupas bagian
permukaan dari keseluruhan rahasia alam burung-burung. Ada banyak hal yang masih harus diungkap dan salah
satunya adalah, bagaimana burung walet mengatur sayapnya untuk meningkatkan kemampuan terbangnya. Dengan
terungkapnya ‘kontrol terbang burung walet’, mungkin saja terjadi bahwa di masa depan nanti, para
insinyur akan dapat menciptakan semacam alat terbang dengan kecepatan, kelincahan, efisiensi dan jarak lepas-landas
dan mendarat yang pendek seperti yang dimiliki serangga dan burung. Siapa tahu?
sumber : http://www.fisikaasyik.com/
PLN Pembohong Besar
Sep 12th
Mercusuar, Senin 7 September 2009
Murad: PLN Pembohong Besar
Takut Kehilangan Subsidi
PALU, MERCUSUAR – Ketua DPRD Provinsi Sulteng, Murad U Nasir dan Walikota Palu, Rusdy Mastura secara blak-blakan mengatakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Palu sebagai pembohong besar. Karena selama ini, PLN tidak punya itikad baik dalam perbaikan krisis energi listrik di Kota Palu dan Sulteng.
Hal itu, terungkap dalam diskusi bertema krisis listrik dan pengembangan wisata teluk Palu yang digelar mahasiswa KKN Stisipol Panca Bhakti Palu, di kampus itu, Minggu (6/9) petang.
Anggota DPR RI yang baru terpilih itu juga mengatakan bahwa PLN berbohong dengan mengatakan bisa menyuplai dan melayani listrik dengan baik kepada warga kota dan sekitarnya, padahal kebutuhan listrik terus meningkat.
“Kalau dulu, kebutuhan listrik masih relatif sedikit, karena barang-barang yang memerlukan listrik masih sedikit. Sementara sekarang justru semakin berlipat kebutuhan listrik itu dengan hadirnya komputer dan alat elektronik lainnya. Sehingga penambahan daya harus dilakukan PLN,” tukasnya.
Sementara menurut Cudy—sapaan karib Walikota Palu, PLN merupakan instansi yang bertanggung jawab sepenuhnya atas krisis listrik bukan pemerintah daerah. Sebab, listrik merupakan tanggung jawab pemerintah pusat yang dilimpahkan kepada PLN yang memonopoli urusan listrik.
“PLN takut kehilangan pekerjaan dan subsidi yang ia terima, kalau pengelolaan listrik itu berpindah ke daerah atau swasta. Bayangkan saja, dengan subsidi yang mencapai Rp400 M untuk operasi mesin PLTD yang dibayar Rp2600 per KWh. Sementara untuk PLTU hanya dibayar Rp465 perKWh dan batubara harus dibeli Rp520 untuk setiap KWh,” tutur Cudy.
Ditambahkannya, janji PLN yang akan menaikkan nilai pembelian daya dari PLTU yang telah disepakati awal tahun ini, menjadi Rp700 perKWh hingga sekarang belum dibayarkan. Sehingga, PLTU terus merugi. Namun PLN meminta PLTU menyuplai 21 MW kalau tidak dipenalti.
“Kalau ada pendemo, PLN selalu mengalihkan bahwa kesalahannya, karena PLTU kurang daya dan alasan klasik lainnya. Padahal, pimpinan PLN sebelum Ramadhan telah menjajikan akan memelihara mesin PLTD, agar saat Ramadhan listrik tidak padam. Nyatanya PLN berbohong besar,” tukas walikota.
PLTU yang ada sekarang ini, lanjut Cudy merupakan bantuan Pemkot Palu kepada PLN dengan daya mencapai 2 x 15 MW, yang diusahakan dengan waktu dan tenaga yang lama, bahkan sampai ke negeri China. ”kami melobi untuk datangkan mesin dan pembangunannya. Sementara PLN dalam kebijakannya tidak terlalu merespon usaha Pemkot Palu, bahkan tidak peduli itu,” Cudy kesal.
“PLN seharusnya berterima kasih dengan hadirnya PLTU. Sebab bagaimana jadinya Kota Palu, kalau PLTU tidak jadi masuk, sementara PLN tidak pernah mengusahakan tambahan daya,” sindirnya.
Daya PLTU yang ada, lanjut Cudy, seharusnya diprioritaskan untuk Kota Palu bukan disuplai ke daerah Parigi maupun Donggala.
“Kalau daya PLTU diprioritaskan untuk Kota Palu, saya kira pemadaman di Palu tidak akan terjadi atau separah ini,” imbuhnya.
Dalam pemberitaan sebelumnya (5/9) Kepala PLN Cabang Palu Imran Rosyidi yang dihubungi mengaku, pemadaman bergilir sampai di atas 12 jam terpaksa diberlakukan karena ketersediaan daya pada saat beban puncak mengalami defisit. Selama Ramadhan, kata Imron, terjadi kenaikan pemakaian daya oleh warga sebesar 2 Mega Watt (MW). Sehingga total pemakaian daya untuk 200 ribu pelanggan Palu, sebagian Donggala dan Parigi mencapai 52 MW, dengan asumsi, setiap rumah menambah daya pemakaian sebanyak 10 watt. Padahal sebelum Ramadhan, penggunaan daya saat beban puncak PLN hanya mencapai 50 MW.
Belum lagi saat ini, mesin unit 8 pada PLTD Silae masih dalam perbaikan. Pihaknya menargetkan beberapa hari menjelang lebaran, baru mesin itu dapat beroperasi kembali.
Kenaikan daya itu terjadi selama Ramadhan karena aktivitas warga bertambah, saat sahur dan berbuka. Oleh karena itu, pihaknya menghimbau masyarakat untuk melakukan penghematan penggunaan daya sebesar 10 watt per rumah, khusus saat sahur dan buka puasa agar pemadaman bergilir tidak berlangsung terus menerus. “Tadi (kemarin), bersama Pemprov, Deprov dan Walikota, kami mengajak seluruh pelanggan untuk melakukan penghematan penggunaan listrik,” katanya (5/9).
Ia meminta masyarakat bisa bersabar dengan proses ini, sambil menunggu penambahan mesin berkekuatan 5 MW dari Manado setelah MoU antara Pemprov, PLN, dan PT Sewa Tama dilakukan. Dari pengadaan mesin itu, Pemprov akan membantu Rp3,5 miliar, sisanya Rp1,5 miliar akan ditanggulangi PLN Palu.
“Untuk sementara 5 MW dulu untuk menunggu realisasi PLTA Sulewana yang beroperasi lagi satu tahun dan penambahan dua unit mesin PLTU yang kemungkinan bisa beroperasi satu setengah tahun mendatang,” katanya. STY/DAR
Mati Lampu Di Palu – PLN Parah
Sep 12th
PALU, KOMPAS.com - Listrik pasokan PLN di sebagian besar jaringan “Sistem Kelistrikan Palu”, Sulawesi Tengah, padam sekitar tujuh jam yaitu sejak Rabu petang hingga Kamis dini hari. Akibatnya, aktivitas keseharian masyarakat setempat menjadi terganggu.
Bahkan akibat pemadaman sangat panjang ini, banyak warga Kota Palu mengeluh, antara lain karena mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, baik dengan cara menggunakan pompa penyedot air tanah maupun melalui jalur distribusi PDAM.
“Dari jam tujuh malam tadi air di rumah kami sudah habis, karena dari awalnya kami tidak mengetahui kalau ada jadwal pemadaman bergilir. Padahal ketika itu orang seisi rumah sangat membutuhkan air untuk membersihkan diri hendak ke masjid guna salat tarawih,” keluh Adi, warga Kelurahan Talise di Palu Timur, Rabu (9/9) malam.
Ia menambahkan, kesulitan serupa dialami oleh banyak tetanggannya, namun umumnya mereka tidak terlalu memusingkan dengan pemadaman listrik berkepanjangan tersebut karena sudah menjadi pengalaman panjang selama beberapa tahun terakhir, kecuali saat mau tidur mengeluh kegerahan akibat tak bisa menghidupkan kipas angin.
Sementara itu, pada pusat-pusat perbelanjaan di Kawasan Hasanuddin, Kawasan Monginsidi, dan Kawasan Gajah Mada, pada Rabu malam terlihat hampir semua toko yang buka terpaksa menghidupkan mesin genset untuk menerangi tempat jualannya yang mulai dipadati pengunjung untuk memenuhi kebutuhan Idul Fitri 1430 Hijriah yang tidak lama lagi.
Karena umumnya kemampuan genset mereka sangat terbatas, sebagian besar mesin pendingin (AC) di ruangan panjangan barang jualan tidak dihidupkan, sehingga pengunjung pun ikut kegerahan. “Mau bagaimana lagi. Sudah begini keadaan Kota Palu yang tidak pernah luput dari pemadaman listrik,” keluh Asun, anggota keluarga dari pemilik sebuah toko pakaian di kawasan Pusat Perbelanjaan Hasanuddin.
Akibat pemadaman aliran listrik mulai Rabu sekitar pukul 17:30 hingga Kamis sekitar pukul 00:20 waktu setempat, banyak pengelola warung internet di Palu mengaku kehilangan penghasilan cukup besar sebab tak bisa melayani pengunjung di waktu-waktu ramai tersebut.
“Sudah saatnya PLN Cabang Palu, PLTU Palu, dan pemerintah daerah setempat duduk satu meja menyelesaikan permasalahan kelistrikan ini, karena sudah sangat mengganggu masyarakat luas,” pinta Dedy, wartawan sebuah koran lokal setempat.
Sebelumnya, Humas PLN Cabang Palu, Petrus Walasary, mengatakan pemadaman listrik pada Sistem Palu yang melayani lebih 170.000 pelanggan di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi-Moutong, masih akan berlanjut hingga batas waktu belum ditentukan.
“Program pemadaman listrik ini masih akan berlangsung, karena PLN Cabang Palu mengalami defisit daya cukup besar akibat dua unit mesin PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Silae di Palu Barat yang mengalami kerusakan, masih belum berhasil diperbaiki teknisi PLN,” katanya.
Dua dari sejumlah unit mesin PLTD yang rusak dimaksud, adalah unit VIII dan X.
PLTD Silae sendiri memiliki daya listrik terpasang sampai sekitar 36 megawatt (Mw), namun karena sebagian besar mesin yang ada sudah termakan usia, sehingga daya mampunya menyusut drastis tinggal berkisar 20-22 Mw.
Sementara itu, harapan PLN setempat terhadap PLTU Palu yang memiliki daya listrik terpasang 2×15 Mw sebagai andalan pemasok kebutuhan listrik pada Sistem Palu tidak bisa terpenuhi secara maksimal, sebab PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang dikelola pihak swasta ini setiap hari hanya bisa melepas daya berkisar 21,5 Mw.
Total daya mampu mesin PLTD Silae dan PLTU Palu dewasa ini hanya sekitar 43 Mw, sementara beban puncak pada Sistem Palu antara pukul 17:30-22:30 Wita hingga mencapai 51 Mw.

