Archive for November, 2009

Sulawesi Barat Sentra Baru Untuk Burung Walet

Polewalimandar, Pundi-pundi Walet Anyar
Oleh trubusid_admindb
Kamis, Oktober 01, 2009

LAYAKNYA RAMBO, JAGOAN FILM PERANG AMERIKA, HAJI AMIRUDDIN MENYANDANG SENJATA LARAS PANJANG DI TANGAN. IA MEMBERONDONG SEKAWANAN BURUNG YANG MENYERBU RUKO TEMPAT TINGGALNYA. ‘SAYA MERASA TERGANGGU. BURUNG-BURUNG ITU KELUAR-MASUK RUKO DAN JUMLAHNYA RATUSAN,’ UJAR WARGA SIDODADI, KECAMATAN WONOMULYO, KABUPATEN POLEWALIMANDAR, SULAWESI BARAT.

Beruntung tak satu pun peluru yang Amiruddin tembakkan mengenai sasaran. Sebab, andai saat itu tahu kawanan burung itu sumber pundi-pundi emas, ia tak bakal mengusiknya. Kebetulan setelah sebulan Amiruddin berperang melawan kawanan burung itu, seorang pedagang Bali singgah ke tempatnya. Begitu melihat burung-burung itu ditembaki buru-buru ia menghentikan aksi Amiruddin. ‘Itu walet! Sarangnya laku dijual mahal,’ ujar Amiruddin menirukan sang pedagang.

Awalnya, 6 bulan sejak kedatangan walet-walet itu Amiruddin hanya membagi-bagikan gratis sarang-sarang walet itu kepada para tetangga. Namun, sejak 2001 silam, setahun setelah walet-walet itu masuk, ia mulai memanen dan menjual sarang si liur emas itu. ‘Panen pertama dapat 1 kg dari 120 sarang. Harga sarang waktu itu Rp6-juta per kg,’ ujar Amiruddin.

Kini, ruko 2 lantai seluas 80 m2 yang telah direnovasi dan tak lagi ditinggali itu menghasilkan 10 kg/bulan sarang mangkok. Dengan harga sarang saat ini Rp12,5-juta per kg, kawanan burung itu sudah menjadi pundi-pundi penghasil rupiah. Populasi waletnya kini mencapai ribuan ekor.

Lintasan baru
Ketidaktahuan warga Wonomulyo soal walet tidak saja menimpa Amiruddin. ‘Sebelumnya tidak ada walet di daerah ini, sehingga banyak yang tidak tahu soal walet,’ ujar Muchlis Selo, peternak baru walet di Wonomulyo. Walet baru datang sekitar 10 tahun silam ketika ada rumah bekas terbakar yang dibiarkan terbengkalai selama hampir 2 tahun.

Ketika walet berdatangan ke rumah itu, penduduk di kecamatan seluas 26.726 km2 itu belum menggubris. Setahun berselang, pada 2000, ketika ruko Amiruddin yang berselisih satu rumah dengan rumah bekas terbakar itu dijadikan sarang walet, barulah mereka tahu tentang si liur emas. Rumah-rumah walet lain pun mulai bermunculan. Saat ini di pusat kelurahan Sidodadi, dalam radius 500 m2 telah berdiri 70 rumah walet.

‘Kemungkinan walet-walet itu datang dari daerah lain seperti Samarinda, Kalimantan Timur, atau Makassar, Sulawesi Selatan,’ ujar Mulyadi, konsultan rumah walet di Tangerang, Banten. Menurut Drs Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, walet-walet itu bisa jadi datang dari daerah lain, tapi tidak menutup kemungkinan di daerah sekitar Wonomulyo. Polewalimandar mungkin sudah menyimpan potensi walet gua yang tidak diketahui banyak orang.

‘Jika walet itu datang dari daerah lain, berarti sumber pakan di tempat asalnya menipis sehingga mereka datang ke tempat yang masih tersedia banyak pakan,’ ujar Arief. Wonomulyo memang ideal sebagai tempat tinggal sekaligus mencari pakan walet karena banyak terdapat kebun kakao dan areal pesawahan yang menjadi sumber mata pencaharian penduduk.

Selain itu, jarak kecamatan berpenduduk 30.279 jiwa pada 2008 itu hanya sekitar 5 km dari laut dan 10 km dari perbukitan yang hutannya masih hijau. Areal pesawahan, perkebunan, dan hutan biasanya dihuni berbagai jenis serangga yang menjadi pakan walet. Dan karena dekat dengan laut, banyak walet betah bersarang. ‘Rumah-rumah walet di sini bisa panen 100% sarang walet, tidak ada campuran seriti,’ ujar Muchlis.

Di Kabupaten Polewalimandar, Wonomulyo menjadi sentra walet satu-satunya. ‘Di daerah lain mungkin sudah mulai berkembang, tapi Wonomulyo perintisnya dan yang terbesar,’ ujar Muchlis. Bahkan, di Sulawesi Barat, belum ada daerah lain yang seperti Wonomulyo. ‘Baru Mamuju yang mulai ada satu-dua rumah walet,’ lanjut peternak yang baru 2 tahun membudidayakan si liur emas itu.

Melek teknologi
Meski peternak di Wonomulyo rata-rata masih baru, tapi soal teknologi walet mereka tak kalah dengan sentra lain di Indonesia. Twitter menjadi alat wajib pengundang walet di rumah-rumah itu. Amiruddin, misalnya, menaruh sekitar 30 twitter di tiap lantai rumah walet miliknya. Untuk alat pemutar suara pun CPU dengan memori yang disimpan dalam USB sudah lazim digunakan.

Sementara untuk menjaga kelembapan bangunan walet, pemilik toko kelontong itu membangun sebuah kolam di dalam rumah walet. Ukuran kolamnya 4 m x 1,5 m dengan ketinggian air sekitar 30 cm. Beberapa peternak bahkan mulai menggunakan humidifier atau mesin pengabut yang lebih praktis digunakan.

Rumah walet yang dimiliki warga Wonomulyo rata-rata berukuran 4 m x 16 m dengan 3 atau 4 lantai. Lantai dasar masih ada yang difungsikan sebagai toko dan lantai kedua sebagai tempat tinggal. Namun, jajaran ruko di kompleks Anditapermai ratarata sudah berubah menjadi rumah walet sepenuhnya. Dengan kehadiran pendatang dari penjuru Sulawesi Barat, rumah walet baru bergaya minimalis pun makin banyak.

Meski hanya lantai atas yang digunakan sebagai rumah walet, tetapi cukup produktif. Walet di rumah 4 lantai seperti milik Muchlis yang baru berumur 10 bulan, sudah menghasilkan 80 sarang walet. ‘Rumah umur 5 tahunan di sini bahkan ada yang bisa panen 2 kali dalam sebulan. Tiap panen 7 kg sarang,’ ujarnya. Pantas Wonomulyo di Polewalimandar siap mencuat menjadi sentra walet anyar. (Tri Susanti)

Palu Mulai Musim Hujan, Berita Baik Untuk Peternak Walet Palu

Beberapa hari ini kota palu selalu diguyur hujan, Saya Perhatikan sore hari walet pada keluar kandang. Nah jangan lupa siapkan lagu walet terbaik anda untuk menarik walet walet yang sedang jalan2 sore. Untuk yang kena giliran bisa pakai genset atau kalau mau hemat biaya playernya di bikin pakai accu seperti yang saya ceritakan di http://kotapalu.net/mesin-pemanggil-walet-diy. Oh iya saya perhatikan banyak pemilik rumah walet yang menyetel suaranya keras keras. Padahal tidak perlu keras sekali sampai pongo telinga badengar, karena telinga walet termasuk peka. Yang penting walet so badengar teusah terlalu keras, nti menggangu tetangga jo akhirnya bakalae lagi le.

Nah selain alat pemanggil juga diperhatikan suhu dan kelembaban ruangan, jadi walet yang terpancing bisa menetap dan akhirnya membuat sarang :) . Untuk mengukurnya bisa menggunakan thermo higrometer. Kalau waletnya gak tertarik dengan suara yang anda mainkan bisa cari yang lebih bagus dong, biar walet cepat tertarik datang.

Belakangan ini kalau jalan jalan sore keliling kota palu saya lihat baik di jalan besar maupun di lorong lorong kecil rumah walet pada didirikan. Lagi demam walet kali yah. tapi mau musim hujan jadi yah ini walet lagi pada cari jodoh :) dan membuat sarang.

Teman saya yang konsultan walet pada kebanjiran order nih :)

Kalau saya sih pada awalnya ada rumah kosong dicoba coba untuk bikin sarang walet, eh lama kelamaan malah jadi hobi. Kalau anda punya rumah kosong bisa saja dijadikan rumah walet. Silahkan baca baca internet atau beli bukunya. Tidak terlalu susah kok.

Bisnis Yang Lagi IN di Palu

Sudah lama saya gak menulis di blog ini yang adanya kopi paste artikel tentang kota palu dari internet :)

Kebetulan tadi ada yang telp menanyakan tentang alat pemanggil walet jadi mau nulis sedikit yang lagi in di palu

  1. Bisnis Warnet
    sekarang ini dipalu warnet lagi menjamur, berkat facebook warnet warnet pada full house semua
  2. Bisnis Rumah Walet
    Dimana mana sekarang rumah walet menjamur baik untuk rumah walet mini maupun rumah walet besar. Tempo hari bahkan ada yang diskusi sama saya membuat rumah walet dengan ukuran 3 x 4 m.
  3. Bisnis rumah makan
    Belakangan ini banyak sekali rumah makan dipalu, mogold, bumbu bistro, bumbu desa, rumah makan padang sederhana
    Memang makanan semua orang pada butuh :)
  4. Bisnis tambang emas
    Poboya sekarang udah ribuan orang mulai dari penambang sampai investor yang membuat tromol. Yang jelas poboya sekarang menjadi ramai. Bahkan ketika saya ke gunung tempat orang menambang mobil yang keren keren pada naik, plat nomernya selain DN, DD, DT, DB, B, L dsb.
  5. Yang lain ? Silahkan ditambahkan dibawah :)