Pembentukan Kapet Palapas
PEMBENTUKAN Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Palu, Donggala, Parimo, dan Sigi (Palapas), adalah langkah strategis pemerintah provinsi setelah melihat manfaat atas eksistensi Kapet Batui (Banggai) selama bertahun-tahun. Pada awal terbentuknya Kapet Batui ada secerca pengharapan yang dapat mendorong laju pembangunan ekonomi, namun apa yang menjadi harapan ternyata jauh panggang dari api.
Hingga Kapet Batui ditutup oleh Gubernur Sulawesi Tengah HB Paliudju, Kapet Batui hanya meninggalkan setitik ketidakjelasan. Bahkan tak lebih dari sekadar catatan sejarah. Padahal, dana yang dihabiskan Kapet Batui sudah puluhan miliar rupiah. Inilah satu sisi yang sangat memprihatinkan bagi masyarakat Sulawesi Tengah, tidak terkecuali Kabupaten Banggai—tempat Kapet Batui “bermukim”.
Kini, almarhum Kapet Batui telah meninggalkan kita semua, dan hadirlah dalam jelmaan penggantinya yang bernama Kapet Palapas—cakupan wilayah kerja yang luas dan dengan potensi menjanjikan yang luar biasa. Terpatri setitik harapan agar Kapet Palapas benar-benar menjelma dengan binar ekonomi yang menyinari kepentingan masyarakat. Selain penempatannya sangat tepat dan strategi, juga dipimpin oleh orang-orang yang mau dikritisi, mau berbagi cerita, dan mau membangun silaturahmi. Bila proyek Kapet Palapas tidak ingin dibagi tidak ada masalah, sepanjang mereka yang dilantik oleh Gubernur selaku Badan pelaksana Kapet masih mau membagi senyum kepada sesamanya.
Masuknya anak-anak muda yang akan mengelola Kapet Palapas merupakan harapan awal yang menjanjikan. Kepercayaan yang diberikan kepada H Hasan Haris SE.MS selaku Waka/Pelaksana Harian Pengelola Kapet menyiratkan sesuatu yang futuris. Hasan Haris dengan pengalamannya yang tidak diragukan, tidak keliru bila sosok yang bersangkutan diberi amanah oleh Gubernur HB Paliudju. Terlebih, tiga anak muda lainnya yang diberi mandat menduduki jabatan Direktur, akan membuat suasana di Kapet Palapas semakin bersinar. Tanpa menafikkan peran generasi tua, memang saatnya mereka dikibarkan sebagai generasi yang dapat meneruskan estapet. Orangtua memang harus kita hargai, sebab tanpa mereka generasi muda tidak mungkin ada. Tetapi bila generasi tua tidak tahu diri, bahkan menjadi sosok yang selalu ingin menjegal, menenggelamkan generasi muda, maka generasi muda akhirnya berdosa karena “menantang” generasi pendahulunya.
H Hasan Haris harus membuktikan diri bahwa dengan kebersamaan tidak ada yang tidak bisa. Terlebih, ketiga direktur yang mendampinginya adalah sosok yang dapat diajak bicara oleh orang lain. Jauh dari kemilau kecongkakan dan jauh dari binar kesombongan. Karena itu, keempatnya menjadi pengokoh tampilnya semua generasi muda, mulai dari Direktur Pengembangan Usaha Ir HM Zainal Abduh M.Si, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Ir Dastar Sarro, serta Direktur Administrasi Keuangan Sutikno SE. Keempatnya harus mampu menjadi teladan yang baik dalam mengemban tugas, dan sedapat mungkin mengerjakan tugas pengabdian bukan dengan pendekatan politik terlebih mereka umumnya akademisi sehingga pendekatan rasional harus dikedepankan.
Untuk sukses dalam memimpin, dan menjadi mantan pemimpin yang dikenang kelak kemudian, jangan bekerja dengan pendekatan politik, sebab lambat atau cepat intrik-intrik politik yang digunakan dalam memimpin pasti akan ketahuan. Jadikanlah Kapet tempat pengabdian dalam mengembangkan kawasan ekonomi di Sulawesi Tengah dengan mengedepankan koordinansi. Jangan ada yang merasa di antara keempatnya sebagai “pemilik Kapet Palapas” sehingga keputusannya bergantung selera dan bukan bergantung pada hasil kesepakatan. Banyak pemimpin yang kita lihat mengira jabatan yang melekat padanya diidentikkan dengan rasa kepemilikan terhadap lembaga atau institusi yang dipimpinnya. Jangan ada kepala dinas di pemerintahan merasa bahwa dinas yang dipimpinnya adalah dinasnya, dan jangan ada ketua prodi atau dekan di perguruan tinggi yang memimpin fakultas merasa bila fakultas yang dipimpinnya adalah milik nenek moyangnya, sehingga keputusan yang diambilnya sesuai dengan selera, tanpa pernah sadar bahwa di dalam dinas atau prodi/fakultas itu ada komponen lain yang perlu diajak bicara. Boleh saja seenaknya, bila jabatan itu seumur hidup, dan pejabatnya adalah dari oknum-oknum yang tidak tahu diri, pun tidak tahu malu.
Semoga kwartet kepemimpinan di Kapet Palapas dapat menjadi teladan kepada semua pemimpin lain yang dalam hatinya merasa sangat memiliki terhadap institusi yang dipimpinnya. Dan ingat, berbuatlah sebaik mungkin, sebab bukan hal mustahil bahwa jika ada noda kecil yang diperbuat, kelak akan diungkap dan ditelusuri secara mendalam sesaat setelah jabatan itu tidak lagi melekat dalam dirinya. Insya Allah, dengan niat yang baik dan dengan pendekatan bukan karena politik dan tujuan-tujuan yang tidak baik, tugas itu akan dilaksanakan dengan ketulusan. Dan hati-hati terhadap pembisik yang mengaku bisa membuat pertanggungjawaban untuk tujuan-tujuan manipulatif. Yakin, setelah tidak menjabat, semua akan kembali mengemuka. Karena itu, bagi Hasan Haris, hendaknya tidak mudah memanfaatkan kesempatan agar kelak nanti tidak menjadi buah bibir di kepolisian dan kejaksaan. Masyarakat Sulteng yakin, Hasan Haris dan ketiga direktur yang mendampinginya mampu mengemban tugas yang diberikan dengan penuh kejujuran, Insya Allah.**
sumber radar sulteng

