Posts tagged Sulawesi Tengah
Mati Lampu Di Palu – PLN Parah
Sep 12th
PALU, KOMPAS.com - Listrik pasokan PLN di sebagian besar jaringan “Sistem Kelistrikan Palu”, Sulawesi Tengah, padam sekitar tujuh jam yaitu sejak Rabu petang hingga Kamis dini hari. Akibatnya, aktivitas keseharian masyarakat setempat menjadi terganggu.
Bahkan akibat pemadaman sangat panjang ini, banyak warga Kota Palu mengeluh, antara lain karena mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, baik dengan cara menggunakan pompa penyedot air tanah maupun melalui jalur distribusi PDAM.
“Dari jam tujuh malam tadi air di rumah kami sudah habis, karena dari awalnya kami tidak mengetahui kalau ada jadwal pemadaman bergilir. Padahal ketika itu orang seisi rumah sangat membutuhkan air untuk membersihkan diri hendak ke masjid guna salat tarawih,” keluh Adi, warga Kelurahan Talise di Palu Timur, Rabu (9/9) malam.
Ia menambahkan, kesulitan serupa dialami oleh banyak tetanggannya, namun umumnya mereka tidak terlalu memusingkan dengan pemadaman listrik berkepanjangan tersebut karena sudah menjadi pengalaman panjang selama beberapa tahun terakhir, kecuali saat mau tidur mengeluh kegerahan akibat tak bisa menghidupkan kipas angin.
Sementara itu, pada pusat-pusat perbelanjaan di Kawasan Hasanuddin, Kawasan Monginsidi, dan Kawasan Gajah Mada, pada Rabu malam terlihat hampir semua toko yang buka terpaksa menghidupkan mesin genset untuk menerangi tempat jualannya yang mulai dipadati pengunjung untuk memenuhi kebutuhan Idul Fitri 1430 Hijriah yang tidak lama lagi.
Karena umumnya kemampuan genset mereka sangat terbatas, sebagian besar mesin pendingin (AC) di ruangan panjangan barang jualan tidak dihidupkan, sehingga pengunjung pun ikut kegerahan. “Mau bagaimana lagi. Sudah begini keadaan Kota Palu yang tidak pernah luput dari pemadaman listrik,” keluh Asun, anggota keluarga dari pemilik sebuah toko pakaian di kawasan Pusat Perbelanjaan Hasanuddin.
Akibat pemadaman aliran listrik mulai Rabu sekitar pukul 17:30 hingga Kamis sekitar pukul 00:20 waktu setempat, banyak pengelola warung internet di Palu mengaku kehilangan penghasilan cukup besar sebab tak bisa melayani pengunjung di waktu-waktu ramai tersebut.
“Sudah saatnya PLN Cabang Palu, PLTU Palu, dan pemerintah daerah setempat duduk satu meja menyelesaikan permasalahan kelistrikan ini, karena sudah sangat mengganggu masyarakat luas,” pinta Dedy, wartawan sebuah koran lokal setempat.
Sebelumnya, Humas PLN Cabang Palu, Petrus Walasary, mengatakan pemadaman listrik pada Sistem Palu yang melayani lebih 170.000 pelanggan di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi-Moutong, masih akan berlanjut hingga batas waktu belum ditentukan.
“Program pemadaman listrik ini masih akan berlangsung, karena PLN Cabang Palu mengalami defisit daya cukup besar akibat dua unit mesin PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Silae di Palu Barat yang mengalami kerusakan, masih belum berhasil diperbaiki teknisi PLN,” katanya.
Dua dari sejumlah unit mesin PLTD yang rusak dimaksud, adalah unit VIII dan X.
PLTD Silae sendiri memiliki daya listrik terpasang sampai sekitar 36 megawatt (Mw), namun karena sebagian besar mesin yang ada sudah termakan usia, sehingga daya mampunya menyusut drastis tinggal berkisar 20-22 Mw.
Sementara itu, harapan PLN setempat terhadap PLTU Palu yang memiliki daya listrik terpasang 2×15 Mw sebagai andalan pemasok kebutuhan listrik pada Sistem Palu tidak bisa terpenuhi secara maksimal, sebab PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang dikelola pihak swasta ini setiap hari hanya bisa melepas daya berkisar 21,5 Mw.
Total daya mampu mesin PLTD Silae dan PLTU Palu dewasa ini hanya sekitar 43 Mw, sementara beban puncak pada Sistem Palu antara pukul 17:30-22:30 Wita hingga mencapai 51 Mw.
Emas Poboya, Deposit Yang Terancam
Aug 22nd
Oleh : Wilianita Selviana*
Perdebatan tentang operasi pertambangan di Sulawesi Tengah masih belum usai, antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan selalu bertentangan. Kandungan mineral yang kaya di daerah ini memang sangat menggiurkan nilai ekonomisnya. Jika diklasifikasikan nilainya dalam bentuk asset, maka kandungan mineral ini merupakan deposit yang sangat berharga di masa mendatang ketika sektor lain seperti budidaya sudah tidak mampu menunjang kesejahteraan masyarakat. Namun yang terjadi saat ini sepertinya tidak demikian, sektor budidaya yang lebih ramah lingkungan justru terabaikan karena keuntungan ekonomi dari eksploitasi kandungan mineral yang ada dianggap lebih menjanjikan.
Hal ini terjadi di Poboya, wilayah yang sejak tahun 1997 ditetapkan sebagai areal konsesi pertambangan emas oleh PT. Citra Palu Mineral (CPM). Setelah berganti pemilik saham beberapa kali, tahun 2008 kemarin kepemilikan saham PT.CPM telah dikuasai oleh PT Bumi Resources (BUMI) Tbk dan akan segera merealisasikan rencana operasinya. Hal ini dikuatkan dengan Surat persetujuan terakhir yang dikeluarkan DESDM nomor 46.K/30.00/DBJ/2008 tanggal 13 Maret 2008. Surat ini merupakan izin untuk kegiatan eksplorasi PT CPM. Menurut rencananya tahapan eksplorasi itu akan dilakukan PT CPM beberapa kali, sebelum dilanjutkan ke tahapan eksploitasi.
Di tahun yang sama juga, BUMI mengekspos informasi kepada Pemegang Sahamnya tentang Prospek Poboya, blok 1, merupakan tahap eksplorasi yang paling maju dengan menyelesaikan program pemboran tahap pertama. Hasil dari program ini mengidentifikasikan adanya kandungan emas sebesar dua juta ons. Informasi ini sangat menggoda dan sempat mendongkrak saham BUMI yang anjlok ketika krisis ekonomi global terjadi.
Ternyata potensi emas Poboya ini tidak hanya menggiurkan para pemegang saham BUMI tapi juga masyarakat Poboya dan di luar Poboya yang mengetahuinya. Di tengah hiruk pikuk rencana operasi BUMI, sekitar bulan November 2008, Operasi pertambangan dengan menggunakan teknologi sederhana mulai dilakukan masyarakat Poboya dibantu oleh masyarakat dari luar yang lebih berpengalaman dan sebagian merupakan penambang eks Bombana, Sulawesi Tenggara yang dipulangkan beberapa bulan sebelumnya oleh Pemerintah Daerah setempat. Iming-iming penghasilan jutaan rupiah perbulan dari eksploitasi emas, meyakinkan masyarakat Poboya untuk beralih mata pencaharian utama dari bertani dan bertenak menjadi penambang. Bahkan beberapa orang pegawai negeri sipil (PNS) juga ikut menanamkan sahamnya pada pembangunan mesin-mesin tromol yang digunakan untuk menghacurkan material hasil galian dan memisahkan butiran emas.
Sebelumnya penambangan emas secara tradisional dengan mendulang emas di sungai Poboya telah dilakukan masyarakat sejak tahun 2003. Hanya saja, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, belum pernah membina masyarakat penambang. Pemkot terkesan melakukan pembiaran atas proses penambangan emas tersebut hingga akhirnya juga dilarang, padahal beberapa kali masyarakat penambang meminta pembinaan namun hingga saat ini tidak juga terealisasi.
Menghentikan penambangan, menghilangkan mata pencaharian
Upaya pemerintah kota Palu membendung operasi pertambangan masyarakat dengan tekonologi sederhana ini, sepertinya tidak diindahkan oleh masyarakat. Bulan Maret yang lalu, langkah penertiban yang dilakukan oleh Pemkot terhadap operasi pertambangan tersebut tidak membuahkan hasil. Justru semakin banyak penambang dari luar Poboya yang datang dan mesin-mesin tromol yang beroperasi juga bertambah jumlahnya. Material yang digali sangat banyak dan alat penghancur serta pemisah emas tidak lagi mampu karena jumlah yang terbatas, sehingga banyak material yang harus dibawa ke Sulawesi Utara untuk diolah disana.
Awal Juni ini, kembali upaya penertiban dilakukan oleh Pemkot namun resistensi masyarakat diluar dugaan. Sebagian besar penambang berharap Pemkot tidak menutup total operasi pertambangan yang mereka lakukan jika tidak ada alternatif ekonomi yang lebih baik kepada mereka. Selama Pemkot belum menawarkan alternatif yang lebih baik kepada masyarakat penambang, maka sangat mustahil untuk menghentikan operasi pertambangan yang ada meskipun dengan alasan lokasi penambangan adalah areal konsesi PT.CPM atau alasan pencemaran lingkungan karena penggunaan merkuri semakin meningkat.
Dari amatan penulis di lapangan, sebelum operasi penertiban dilakukan telah beroperasi 8 mesin tromol di wilayah Poboya dan saat seminggu sebelum tulisan ini dipublikasikan, jumlah mesin tromol yang ada sudah sekitar 15 unit. Hal yang membingungkan penulis adalah jumlah mesin ini bertambah disaat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mendirikan pos pengawasan di wilayah ini.
Merusak lingkungan, menurunkan pertumbuhan ekonomi
Kekhawatiran berbagai pihak terhadap ancaman kerusakan lingkungan akibat operasi pertambangan tidak bisa disepelekan. Hal ini harus menjadi perhatian serius, karena berpengaruh besar pada kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi sering dijadikan alasan untuk menguras kandungan mineral dengan operasi pertambangan, memanfaatkan deposit untuk konsumsi hari ini seolah dianggap adalah pilihan bijak.
Pertumbuhan ekonomi kemudian digenjot dengan sangat cepat, eksploitasi di sektor pertambangan menjadi salah satu pilihan utamanya. Pelestarian sumber daya alam dan pengendalian pencemaran tidak lagi diindahkan. Maka kegiatan ekonomi pun sebenarnya akan surut dengan cepat, terutama ketika penduduk sedang berkembang. Lingkungan alam yang turun melebihi daya dukungnya akibat kegiatan yang sangat eksploitatif akan menyebabkan ekonomi kehilangan kemampuannya untuk tumbuh.
Penelantaran lahan pertanian hampir 3.000 ha yang dikelola oleh masyarakat Poboya selama ini karena beralih menjadi penambang sangat disayangkan. Alasan ketersediaan air yang sangat minim untuk pertanian mereka dan selalu dikeluhkan harusnya bisa dicarikan solusi yang tepat, bukan justru beralih menjadi penambang.
Keasyikan pada kepentingan ekonomi semata-mata dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang tidak dapat diperbaiki. Sama halnya dengan kegiatan membabat hutan yang dilakukan terus menerus tanpa usaha yang cukup untuk reboisasi, maka kita akan dengan cepat mempersempit pertumbuhan ekonomi. Hal ini sudah mulai terbukti dengan dampak perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini.
Deposit berharga harusnya tidak terancam
Pada masa Gubernur Sulawesi Tengah Prof (EM) H Aminudin Ponulele, rencana operasi PT. CPM di Poboya sempat terhenti dengan alasan berada di wilayah lindung. Pilihan bijak ini sangat beralasan karena antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan memang harus berjalan seiring. Namun setelah pergantian Gubernur pada 2006 lalu, Gubernur baru HB Paliudju, kembali memberikan peluang kepada Investor yang akan menambang emas di Poboya, sehingga wajar saja aktivitas penambangan di Poboya oleh masyarakat kembali berlanjut. Pendapat masyarakat sangat sederhana, jika perusahaan besar diberikan izin oleh pemerintah, maka masyarakat juga dengan sendirinya boleh melakukan penambangan.
Hanya saja yang harus dipertimbangkan adalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan hanya mungkin apabila ada perlindungan lingkungan yang memadai. Dalam pengambilan kebijakan di segala tingkat masyarakat, pertimbangan-pertimbangan lingkungan perlu menjadi komponen yang integral dari pengambilan keputusan.
Keberadaan deposit berharga yang dimiliki harusnya dijaga sebagai persediaan di masa yang paling sulit ketika tidak memungkinkan lagi mengembangkan sektor budidaya yang selama ini dikelola oleh sebagian besar masyarakat seperti bidang pertanian dan peternakan. Bukan justru memilih menguras deposit disaat kondisinya masih memungkinkan mengupayakan sektor lain yang tidak beresiko besar terhadap lingkungan.
Pemerintah daerah juga sebaiknya mendukung hal ini dengan penyediaan sarana-sarana penunjang kegiatan pertanian dan peternakan yang dilakukan masyarakat sehingga pilihan-pilihan paraktis tidak menjadi pilihan utama seperti menjadi buruh tambang. Masyarakat juga harus didorong agar berdaulat di tanah mereka. Demikian halnya dengan program-program pembangunan yang dilaksanakan, seperti rencana pengembangan kawasan agro wisata beberapa waktu lalu harus melibatkan masyarakat setempat sebagai mitra bukan mengabaikan keberadaan meraka.***
*Penulis adalah Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sulawesi Tengah
sumber:jatam.org
Investasi Di Sulawesi Tengah
Jun 7th
Investasi Prov Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah memiliki luas wilayah daratan 68.033,71 Km² dan luas wilayah laut seluas 189.480 Km². Sebelah utara provinsi ini berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Maluku, sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dan di sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar. Secara administratif provinsi ini terbagi menjadi 9 kabupaten dan 1 kotamadya, dengan Palu sebagai ibukota provinsi dan dihuni oleh 2.284.659 jiwa (Susenas 2005) dengan kepadatan penduduk 34 jiwa per km².
Untuk tahun 2005, total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah mencapai Rp. 11,72 triliun. Kontribusi terbesar datang dari sektor pertanian sebesar Rp. 5,34 triliun atau 45,6% dari total PDRB diikuti sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan kontribusi untuk masing-masing sektor sebesar Rp. 1,77 triliun (15.1%) dan Rp. 1,49 triliun (12,7%). Secara umum, perkembangan PDRB Sulawesi Tengah ditampilkan pada grafik disamping.
Provinsi ini memiliki komoditi unggulan dari sub sektor perkebunan dan perikanan. Komoditi unggulan dari sub sektor perkebunan yaitu kelapa, kakao, kelapa sawit dan karet sedangkan untuk sub sektor perikanan berupa perikanan tangkap. Termasuk perikanan laut, budidaya dan umum (tambak, kolam, sawah, keramba) sebanyak 3.853,09 ton.
Hasil survei industri besar dan sedang tahun 2004 mencatat jumlah industri besar dan sedang sebanyak 34 perusahaan yang aktif. Penyerapan tenaga kerja mencapai 3.007 orang dengan jenis industri terbanyak adalah industri kayu dan barang dari kayu lainnya.
Untuk menunjang kelancaran kegiatan perekonomian tersedia prasarana jalan darat sepanjang 3.792,04 km, juga 10 (sepuluh) pelabuhan laut utama yaitu Pantolan, Toli-toli, Luwuk, Poso, Ampana, Bungku, Leok, Parigi, Ogoamas, dan Salakan serta 5 (lima) bandar udara yaitu Bubung Luwuk, Kasigincu Palu, Lalos Toli-toli, Pagogul Buol, dan Mutiara Palu.
Sumber Data: -sulteng.go.id
Informasi Tentang Koordinat Sulawesi Tengah
Sumber Daya Alam Provinsi Sulawesi Tengah
Jun 7th
Sumber Daya Alam Provinsi Sulawesi Tengah
Perkembangan sektor pertanian sangat dominan. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan untuk mengatasi dampak krisis ekonomi dan telah dapat meningkatkan produksi dan ekspor beberapa komoditas unggulan walau secara keseluruhan belum memberikan nilai tambah dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat petani. Lahan persawahan sesuai sistem pengairannya dapat dibedakan antara lain lahan sawah irigasi teknis seluas 54.314 ha, irigasi setengah teknis seluas 36.241 ha, irigasi sederhana seluas 13.410 ha, irigasi desa/Non PU seluas 22.929 ha dan lahan sawah non irigasi teknis seluas 23.518 ha.
Dari luas lahan tersebut jumlah produksi padi sawah yang dihasilkan setiap tahunnya mencapai 726.714 ton/ha. Luas lahan palawija, hortikultura dan sayur-mayur 57,320 ha, luas lahan buah-buahan 14.029,92 ha dan luas lahan tanaman obat 667.272 ha. jumlah produksi yang dihasilkan dari lahan palawija antara lain jagung dengan jumlah produksi 67.617 ton/ha, tomat jumlah produksi 58.260 ton/ ha, lobak jumlah produksi 48.300 ton/ha, ubi kayu jumlah produksi 48.255 ton/ha, bawang merah jumlah produksi 44,960 ton/ha, terung jumlah produksi 32.490 ton/ha.
Tanaman buah-buahan, jumlah produksi yang dihasilkan antara lain jeruk siam/keprok sebanyak 21.036 ton/ha, labu siam sebanyak 18.890 ton/ha, nangka sebanyak 3.763 ton/ha, durian 3.123 ton/ha, dan pisang sebanyak 2.887 ton/ha.
Potensi peternakan, hewan ternak didominasi oleh sapi dengan jumlah produksi sebanyak 189.145 ekor, kambing sebanyak 188.452 ekor, kerbau sebanyak 4.491 ekor, kuda sebanyak 3.315 ekor, dan domba sebanyak 2.211 ekor. Sedangkan hewan unggas didominasi oleh ayam pedaging dengan jumlah populasi mencapai 2.522.000 ekor, lalu disusul oleh ayam kampung sebanyak 2.008.549 ekor, ayam ras (petelur) sebanyak 376.214 ekor, itik sebanyak 210.784 ekor. Sektor peternakan setiap tahunnya menghasilkan populasi yang jumlahnya sangat besar. Peternakan sapi menghasilkan produksi daging sebanyak 2.988,17 ton, peternakan babi menghasilkan sebanyak 2.320,19 ton, kambing sebanyak 84,69 ton, peternakan kerbau sebanyak 38,19 ton, peternakan domba menghasilkan produksi daging sebanyak 24,75 ton, Peternakan ayam ras (petelur) menghasilkan telur sebanyak 299,06 ton, peternakan ayam ras (pedaging) menghasilkan produksi daging sebanyak 2.006,01 ton, peternakan ayam kampung menghasilkan produksi daging sebanyak 1.876,14 ton dan peternakan itik sebanyak 105,18 ton.
Dari komoditas perkebunan, yang diunggulkan adalah kelapa dengan luas areal tanam sebesar 147.320 ha menghasilkan produksi sebanyak 188.650 ton pertahun, kakao luas areal tanam 193.495 ha menghasilkan 177.591 ton per tahun, kelapa sawit luas areal tanam 66,595 ha menghasilkan 623.293 ton pertahun, kopi luas areal tanam 10.720 ha menghasilkan 4.877 ton pertahun, karet luas areal tanam 6.520 ha menghasilkan 7.216 ton pertahun, vanili luas areal tanam 1.434 ha menghasilkan 92 ton pertahun dan lada luas areal tanam 1.428 ha menghasilkan 227 ton pertahun.
Salah satu sumber daya alam lainnya yang dimiliki adalah sektor kehutanan. Luas hutan mencapai 4.394.932 ha, potensi hutan yang dimiliki sangat besar. Jenis-jenis hutan antara lain hutan lindung seluas 1.489.923 ha, hutan produksi biasa seluas 500.587 ha, hutan produksi terbatas seluas 1.476.318 ha, hutan konversi seluas 251.856 ha, hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 676.923 ha. Hasil produksi dapat diambil antara lain kayu bulat sebanyak 114.583,25 m³, kayu gergajian 90.308.477,5 m³, kayu eboni 708,32 m³, rotan 13.908.462 m³ dan damar 1.468.826 m³.
Selain itu, terdapat pula potensi sumber air laut, diperkirakan luas perairan sekitar 3 (tiga) kali luas daratan yakni 193.923,75 km² membentang sepanjang wilayah. sebelah timur sejauh Teluk Tolo dan Teluk Tomini dan sebelah barat adalah Selat Makassar dan sebagian laut Sulawesi. Potensi perairan laut mengandung sumber penghasilan yang sangar besar berupa bahan makanan ikan dan tumbuhan laut. Potensi lestari perairan laut Sulawesi Tengah diperkirakan sebesar 1.593.796 ton pertahun. Potensi kelautan dan perikanan dimasukkan dalam penetapan zona/kawasan pengelolaan sumber daya pesisir clan laut Sulawesi Tengah, yakni:
Zona pengembangan I, meliputi perairan laut Sulawesi dan Selat Makasar yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Toli-toli dan Kabupaten Buoi;
Zona Pengembangan II, meliput perairan Teluk Tomini yaitu Kab Lipaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, Kabupaten Bariggai;
Zona Pengembangan III, meliputi Perairan Teluk folo, yattu Kabupaten Bariggat, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Worowali.
Potensi penangkapan ikan di laut lepas dan budidaya pantai dapat menghasilkan 92.088 ton ikan dengan jumlah kapal penangkap ikan sebanyak 31.675 unit. Sedangkan di perairan umum mencapai 299 ton ikan. Perikanan budi daya fuis areal mencapai 10.403 ha dapat memproduksi 9.286,6 ton. Pada budidaya tersebut mencapai 1.394,80 ha, dapat menghasilkan sebanyak 1.579,70 ton ikan. Pada budi daya jumlah keramba mencapai 60 unit produksi 23,2 ton, sedangkan budidaya laut dengan luas areal 828,3 ha menghasilkan produksi sebanyak 20.664,4 ton. Saat ini, Provinsi Sulawesi Tengah pengekspor hasil perikanan sebanyak 1.641 ton keberbagai negara setiap tahunnya.
Potensi sumber daya air cukup besar aliran sungai dan air danau. Sumber air dan danau dapat dikembangkan energi yang cukup potensial dibagi menjadi beberapa skala, antara lain:
Potensi Skala Besar (PLTA) yakni: Sungai Sulewana (Poso) dan Danau Lindu (Palu) yang berkapasitas total 714,8 Mw;
Skala Menengah (PTM) yang berkapasitas total 28.564,12 Mw dan;
Skala Kecil yang berkapasitas total 804,8 Mw.
Provinsi Sulawesi Tengah juga memiliki Potensi Listrik Tenaga Surya (PLTS) seluruh wilayah kabupaten/kota dengan jumlah 8.025 unit dan kapasitas 1.650 kw. Potensi Tenaga Bayu/Angin (PLTB) tersebar di seluruh wilaya kabupaten/kota dengan kapasitas 2-3 m/s. Potensi minyak bumi terdapat di Lapangan Tiaka Kec. Bungku Utara Kab. Morowali dan Kec. Toili Barat Kab. Banggai dengan kapasitas 16,5-23 juta barrel/hari dan potensi gas bumi di Senoro Kec. Taili Kab. Banggai demgam kapasitas 1,6 triliun kaki kubik.
Potensi lain yang taka akalah pentingnya adalah bidang pertambangan dan energi. Jenis-jenis pertambangan antara lain nikel dengan luas areal bahan galian mencapai 322.200 ha dengan jumlah potensi cadangan mencapai 8.000.000 WMT dan jumlah cadangan Infered imonit 14.062,20 juta ton. Jenis pertambangan lainya adalah gelena dengan potensi cadangan mencapai 100.000.000 ton, emas mancapai 16.000.000 ton, molibdenum mencapai 100 juta ton, granit potensi cadangan terukur berdasarkan hasil pemetaan semi mikro 1:50.000 sebesar 259.461.283.470 m³, pasir dfelspar potensi cadangan sebesar 71.211.000 m³, gips dengan luas areal ±200 ha, Lempung potensi cadangan mencapai 6.970.000 m³ dan batu bara dengan ketebalan lapisan 0,3-0,1 m yang pada ketebalan 0,15-3,0 m penyebarannya sekitar 15 ha.
Sumber: Indonesia Tanah Airku (2007).
Informasi lain tentang Sulteng- Miss Indonesia Dari Sulteng
Koordinat Titik Sulawesi Teng
Jun 7th

Sulawesi Tengah GPS Point
3°S 123°E
48.1 km (29.9 miles) ENE of Pulau-pulau Sainoa (Islands), Sulawesi Tengah, Indonesia
3°S 122°E
2.6 km (1.6 miles) SW of Karambao, Sulawesi Tengah, Indonesia
2°S 124°E
16.8 km (10.4 miles) S of Pulau Timpaus (Island), Sulawesi Tengah, Indonesia
2°S 123°E
12.3 km (7.6 miles) SW of Taduno, Pulau Bangkulu (Island), Sulawesi Tengah, Indonesia
2°S 122°E
41.8 km (26.0 miles) E of Tanjung Bea (Cape), Sulawesi Tengah, Indonesia
2°S 121°E
2.7 km (1.7 miles) E of Tomata, Sulawesi Tengah, Indonesia
1°S 124°E
58.6 km (36.4 miles) ENE of Tanjung Pamali (Cape), Pulau Peleng (Island), Sulawesi Tengah, Indonesia
1°S 123°E
14.7 km (9.1 miles) ESE of Tanjung Biak (Cape), Sulawesi Tengah, Indonesia
1°S 122°E
4.1 km (2.5 miles) ESE of Kauhangka, Sulawesi Tengah, Indonesia
1°S 121°E
37.1 km (23.0 miles) NW of Ujung Masalogi (Cape), Sulawesi Tengah, Indonesia
1°S 120°E
6.7 km (4.2 miles) ENE of Bora, Sulawesi Tengah, Indonesia
0° 122°E
29.2 km (18.1 miles) NNW of Pulau Malingi (Island), Sulawesi Tengah, Indonesia
0° 121°E
44.0 km (27.3 miles) S of Tanjung Sempinit (Cape), Sulawesi Tengah, Indonesia
0° 120°E
near Poli, Sulawesi Tengah, Indonesia
0° 119°E
67.3 km (41.8 miles) W of Tanjung Manimbaya (Cape), Sulawesi Tengah, Indonesia
1°N 122°E
5.2 km (3.2 miles) SE of Butakio-doka, Sulawesi Tengah, Indonesia
1°N 121°E
19.5 km (12.1 miles) ENE of Salugan, Sulawesi Tengah, Indonesia
1°N 120°E
26.9 km (16.7 miles) W of Pulau Lingayan (Island), Sulawesi Tengah, Indonesia
2°N 122°E
95.9 km (59.6 miles) NE of Tanjung Kandi (Cape), Sulawesi Tengah, Indonesia
2°N 121°E
71.7 km (44.5 miles) N of Pulau Dolangon (Island), Sulawesi Tengah, Indonesia
Kaledo Dari Kota Palu
Jun 4th
Kaledo-Makanan Khas Palu

Kaledo Khas Palu
A. Selayang Pandang
Jangan mengaku pernah menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.
Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.
Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya.
B. Keistimewaan
Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis.
Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.
Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.
C. Lokasi
Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu – Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.
D. Harga
Harga kaledo berkisar antara Rp. 25.000,00 – Rp. 30.000,00 perporsi. (Maret 2008).
(Samsuni/wm/34/03-08).wisata melayu
Teluk Palu
Jun 4th
Teluk Palu, Potensi Wisata yang Tersembunyi

Wisata Teluk Palu
Banyak lokasi wisata yang sebenarnya dapat menjadi andalan Kota Palu untuk di promosikan ke tingkat nasional bahkan ke internasional sekalipun sebagai potensi wisata penunjang ekonomi bagi Pemerintah Sulawesi Tengah, Khususnya Kota Palu.
ImageSalah satu potensi yang menjadi andalan yakni areal Teluk Palu, yang saat ini justru dipandang sebelah mata oleh Pemerintah guna di fasilitasi menjadi icon wisata Kota Palu. Padahal jika dilihat dari faktor alam, areal sepanjang pantai Talise itu, merupakan fenomena langka yang jarang ditemui di daerah-daerah lain. Deburan ombak di sore hari, terlihat indah manakala sangsurya mulai tenggelam, menjadi salah satu anugerah tersendiri yang diberikan Ilahi bagi masyarakat tanah Kaili.
Selain itu, pembangunan jembatan IV Palu, yang memakan dana miliaran rupiah, terlihat kurang lengkap tanpa disertai asset wisata disekitarnya. Malahan, proyek yang dibangun dengan dana APBD itu, saat ini sangat memprihatinkan kondisinya. Beberapa lampu penerang yang dipajang untuk menghiasi Jembatan di waktu malam, saat banyak yang telah hilang dan sengaja dirusakan oleh oknum yang tidak ingin melihat Kota Palu Indah.
Potensi tersembunyi yang ada di Teluk Palu, nampaknya belum tercium oleh para pemimpin kita baik di tingkat Eksekutif maupun Legislatif. Kenyataannya, sampai dengan saat ini, banyak sampah-sampah yang masih bertebaran disepanjang pantai, salah satu faktor penghambat dari rencana Pemerintah Kota Palu, untuk menuju Kota Adipura.
<
Dan yang sangat disesalkan, akibat permasalahan sampah ini, dua pihak yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palu, saling tuding dalam pengangkutan sampah yang bertebaran di sepanjang pantai itu. Dinas KLH menuding bahwa Disbudparlah yang seharusnya mengangkut semua sampah yang bertebaran disepanjang, karena wilayah itu menurut KLH lokasi tersebut, adalah areal wisata yang menjadi tanggungan Disbudpar.
“Sampah-sampah yang bertebaran disepanjang pantai bukan tanggung jawab kami dari KLH, itu adalah kewenangan dari dinas Pariwisata Kota Palu untuk mengangkutnya, karena wilayah itu adalah lokasi wisata yang menjadi tanggungan Disbudpar,” ujar Kepala Dinas LHK, Drs Boby Wowor. Suatu sikap yang tidak semestinya ditunjukan oleh suatu SKPD, apalagi menyangkut masalah kebersihan Kota.
Mungkin butuh waktu lama bagi masyarakat Kota Palu, untuk menyaksikan kemajuan Kota Palu secara signifikan. “Belum pasti, kapan Palu akan maju. Dari tahun ke tahun pemerintah belum menunjukan tanda-tanda akan membawa Kota Palu menjadi Kota Wisata. Padahal sumber daya alam yang terkubur sedang menunggu untuk di kelola,” tutur Arfan. Disisi lain rencana Disbudpar Kota Palu, untuk membangun Taman Terapung di wilayah Teluk Palu, sebagai awal kemajuan wisata daerah, justru dianggap oleh Legislatif sebagai program yang mubazir karena memakan dana puluhan miliar.
“Rencana Disbudpar itu belum cocok untuk realisasikan sekarang, itu adalah program yang mubazir untuk dilaksanakan,” kata anggota DPRD Kota Palu, Kaharudin Syah. Dengan alasan keterbatasan dana APBD dan kurangnya dukungan dari jajaran pemerintahan, Alhasil, program yang rencanya akan dimulakan pada awal 2008 itu, harus dibatalkan dan diganti dengan program lainnya yang menurut anggota DPRD Kota Palu lebih prioritas. Hal ini mungkin yang menjadikan kinerja Disbudpar Kota Palu, selalu mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Padahal, untuk diketahui, rencana dinas tersebut untuk menjadikan Kota Palu sebagai pusat wisata di Sulawesi telah lama di agendakan kepada dua jajaran tertinggi di pemerintah. Tapi sayangnya, rencana-rencana itu hanya pajangan pada saat pembahasan anggaran berlangsung, tanpa direspon penuh oleh para pimpinan dan pejabat Pemerintah.
Padahal jika program ini dapat terealisasi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masuk pada kas Pemerintah Kota Palu, akan sangat besar dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Sulteng.
Selain itu, dengan berdirinya pusat hiburan terbesar itu, akan menyerap banyak tenaga kerja di Kota Palu dalam berbagai sektor, yang juga merupakan langkah awal mengurangi tingkat pengangguran. “ Andaikan program kami dapat disetujui, yang diuntungkan adalah Kota Palu juga. Selain akan mendatangkan PAD yang besar bagi pemerintah, pembangunan taman terapung itu pasti akan menyerap tenaga kerja yang ada di Kota Palu, dengan demikian dapat mengurangi tingkat pengangguran yang semakin membludak,” ungkap Kadisbudpar Kota Palu, Drs Rum Parampasy. (Alfrits. S)
diambil dari http://mycityblogging.com/palu/2008/01/08/teluk-palu-potensi-wisata-yang-tersembunyi
Sulawesi Tengah In Gooogle
Jun 4th
Kata Kunci Sulawesi Tengah
Kalau kita ketik sulawesi tengah lalu ditampilkan hasilnya. Ternyata ada beberapa site besar seperti radar sulteng yang error. silahkan lihat kebawah
Home – SULTENG.GO.ID – [ Translate this page ]
Situs resmi. Berisi data dan informasi daerah, potensi ekonomi, pariwisata, serta profil instansi dan daerah.
www.sulteng.go.id/ – 71k – Cached – Similar pages -
Propinsi Sulawesi Tengah – [ Translate this page ]
Dalam Tahun Anggaran 2006, bidang Data Bappeda Propinsi Sulawesi tengah akan mengadakan Pelelangan Umum dan Klasifikasi jasa Pemborongan Non Konstruksi …
www.sulteng.go.id/pub/ – 33k – Cached – Similar pages -
Central Sulawesi – Wikipedia, the free encyclopedia
Central Sulawesi (Sulawesi Tengah) is a province of Indonesia located in the heart of Sulawesi. It was established on April 13, 1964. …
en.wikipedia.org/wiki/Central_Sulawesi – 40k – Cached – Similar pages -
Video results for sulawesi tengah
Banggai islands, Sulawesi tengah, Indonesia
5 min
www.youtube.com
Pertemuan Tim Poso dengan Gubernur Sulteng di …
3 min 4 sec
www.youtube.com
Sulawesi Tengah Region Map: Banggai — Poso | Indonesia Google …
Google maps Sulawesi Tengah gazetteer. Complete list of google satellite map locations in Sulawesi Tengah, Indonesia.
www.maplandia.com/indonesia/sulawesi-tengah/ – 42k – Cached – Similar pages -
Sulawesi Tengah (province, Indonesia) — Britannica Online …
Britannica online encyclopedia article on Sulawesi Tengah (province, Indonesia), provinsi (province), consisting of the northeastern peninsula, …
www.britannica.com/EBchecked/topic/572333/Sulawesi-Tengah – 47k – Cached – Similar pages -
cPanel®
Great Success ! Apache is working on your cPanel® and WHM™ Server. If you can see this page, then the people who manage this server have installed cPanel …
radarsulteng.com/ – 4k – Cached – Similar pages -
Biro Infokom – Propinsi Sulawesi Tengah – [ Translate this page ]
Menyediakan informasi daerah dan pembangunan. Terdapat profil, potensi ekonomi, statistik, dan berita.
www.infokom-sulteng.go.id/ – 76k – Cached – Similar pages -
REPUBLIK INDONESIA – Provinsi Sulawesi Tengah – [ Translate this page ]
Selamat Datang di Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. Pariwisata di Sulteng merupakan sektor yang masih dapat dikembangkan lebih baik. …
www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id= 3036&Itemid=1604 – 33k – Cached – Similar pages -
DCP: Indonesia : Sulawesi Tengah
2.6 km (1.6 miles) SW of Karambao, Sulawesi Tengah, Indonesia … 2.7 km (1.7 miles) E of Tomata, Sulawesi Tengah, Indonesia …
confluence.org/region.php?id=296 – 11k – Cached – Similar pages -
Investasi Korea di Sulteng
May 19th
Gubernur Jeollanam-do Galakkan Investasi Korea di Sulteng
Kapanlagi.com – Gubernur Jeollanam-do (Korsel), Park Joon-yung, berjanji akan menggencarkan masuknya investasi Korsel ke Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) guna merealisasikan kerja sama “provinsi kembar” antar kedua daerah yang berbeda negara ini.
“Mulai hari ini saya akan berusaha menarik modal dari Korsel untuk mengembangkan investasi di Sulteng,” kata dia ketika memberikan sambutan pada acara penandatanganan Letter of Intens (LoI) untuk hubungan bisnis antar pengusaha kedua kawasan tersebut di Palu, Senin (13/4) malam.
Selain untuk merealisasikan kerja sama bilateral antar kedua provinsi itu, katanya, upaya mendorong masuknya investasi Korsel ke Sulteng terkait pula pada upaya penguatan kebijakan pemerintahan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak yang berusaha menjalin kerja sama lebih intens dengan Indonesia.
Presiden Lee pada 6 Maret lalu melakukan kunjungan kerja ke Jakarta dan menemui Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono untuk membahas peningkatan kerja sama di bidang ekonomi dan investasi.
Pada acara yang dihadiri belasan Presiden dan CEO perusahaan asal Korsel serta para pejabat dan pengusaha Sulteng itu, Gubernur Park berharap kerja sama antara Provinsi Sulteng dan Provinsi Jeollanam-do yang sudah ditandatangani dalam bentuk LoI tersebut dapat ditingkatkan ke arah lebih serius (dalam bentuk kontrak bisnis dan investasi) serta berjalan dalam jangka panjang.
Park memuji langkah Gubernur Sulteng, Badjela Paliudju, yang dinilainya terus berjuang memacu masuknya investasi guna mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat di daerahnya.
Sebelumnya, Gubernur Paliudju mengatakan, daerahnya yang memiliki 10 kabupaten dan satu kota itu memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar dan beraneka ragam, namun umumnya belum dikelola secara maksimal.
Karena itu, Gubernur Paliudju menyambut baik kedatangan Gubernur Jeollanam-do dan puluhan pengusaha Korea yang berencana menanamkan investasinya di sektor perikanan dan kelautan, pertanian dan perkebunan untuk kepentingan bio-energi, pertambangan, dan kehutanan (penghijauan).
“Saya berharap kerja sama ini segera terealisasi untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kedua wilayah,” kata dia, seraya meminta Badan Pengurus Kapet Palapas terus membangun komunikasi yang intensif dengan pengusaha Korea.
Gubernur Paliudju sendiri telah menyerahkan kepada Badan Pengurus Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu Palu, Donggala, Parigi-Moutong (Kapet Palapas) untuk menangani kerja sama “provinsi kembar” antara Sulteng dengan Jeollanam-do. (kpl/meg)
sumber kapanlagi
Banggai islands-Sulawesi tengah
May 17th
Menurut wikipedia Kabupaten Banggai adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Luwuk. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.160,46km² dan berpenduduk sebanyak 284.275 jiwa (Data BPS tahun 2004).
Ahli entomologi Belanda Alfred Russel Wallace menggolongkan Pulau Sulawesi dengan Kabupaten Banggai di dalamnya, berbeda flora dan fauna dengan pulau-pulau lain di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera atau Irian Jaya. Salah satu obyek wisata di Kabupaten Banggai adalah Suaka Margasatwa Bangkiriang. Areal seluas 3.500 hektar dengan jarak 56 kilometer dari Luwuk, adalah tempat perlindungan bagi Burung Maleo. Jenis unggas berukuran lebih kecil dari ayam biasa, dan memiliki cara bertelur mirip penyu ini, diperlakukan khusus oleh masyarakat setempat. Tiap tahunnya, khususnya tiap panen telur Maleo, mereka selalu mengadakan upacara Tumpe demi menghindari diri dari kutukan wabah penyakit. Acara-acara seperti itu tentunya sangat unik sebagai daya tarik wisata. Tempat wisata andalan lainnya adalah; Suaka Marga Satwa Patipati, Panorama Alam Salodik, Pulau Bandang, Pantai Kilometer 5, Air Terjun Hanga-Hanga, Lombuyan (suaka marga-satwa bagi Anoa), Pulau Tikus yang terkenal dengan pasir putihnya, dan banyak lagi lainnya
Kabupaten Banggai dulunya merupakan bekas Kerajaan Banggai yang meliputi wilayah Banggai daratan dan Banggai Kepulauan. Pada tahun 1999, Kabupaten Banggai dimekarkan menjadi Kabupaten Banggai dan Kabupaten Banggai Kepulauan.
Kabupaten Banggai merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Tengah yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, baik berupa hasil laut (ikan, udang, mutiara, rumput laut, dsb), aneka hasil bumi (kopra, sawit, coklat, beras, kacang mente, dsb) dan hasil pertambangan (nikel yang sedang dalam taraf eksplorasi) dan gas (Blok Matindok dan Senoro)

